Saturday, August 13, 2011

Guru Parama Shanti


Kegelapan di mana-mana. Seorang anak muda dari Bali mengirim surat elektronik yang mengkhawatirkan awan kegelapan yang menutupi pulau Bali: cuaca ekstrim, pemimpin saling menyerang, manusia berkelahi sampai-sampai merusak pura. Di Jakarta, sudah mulai ada yang menggunakan agama sebagai senjata menyerang orang, bahkan menggunakan kata “bohong” sebagai peluru penghancur. Di Amerika Serikat Barack Obama diserang habis dengan isu-isu rasialis secara sarkastis. Di Italia, perdana menteri Silvio Beluschoni dilempar patung mukanya hingga berdarah-darah.



Kita di Bali diajarkan tetua, kapan saja kegelapan demikian menakutkan, maka cepat-cepatlah mencari sundih (lentera penerang). Dan salah satu lentera penerang di segala zaman bernama guru. Makanya, di Himalaya salah satu arti guru adalah  pengusir kegelapan. Namun, untuk bertemu wajah guru yang mendekati lengkap, manusia memerlukan empat jenis guru: guru buku suci, guru hidup, guru simbolik, guru rahasia.

Buku Suci
Kombinasi empat guru ini diperlukan, terutama karena semua agama resmi sudah berumur lebih dari seribu tahun. Buddha sebagai contoh, berumur nyaris 2.600 tahun, Hindu lebih tua lagi yakni lebih dari 100.000 tahun. Dengan umur setua itu, bertumpu hanya pada buku suci saja,  manusia bisa mudah tergelincir pada praktek berbahaya.
Ini yang ada di balik praktek beragama yang ekstrim sekaligus berbahaya. Ada yang berperang atas nama Tuhan. Ada yang melakukan pembunuhan massal atas nama agama. Ada yang menghancurkan gedung tinggi dengan menabrakkan pesawat. Substansinya cuman satu, buku suci tidak saja dipahami secara terbatas, bahkan sudah dipolitisir secara amat berlebihan.
Setiap sahabat yang lama menyelami buku suci tahu, di setiap agama ada pilihan untuk pemula sekaligus untuk mereka yang mau dalam. Ambil contoh Bhagavad Gita. Di tangan pemula yang berbahaya, Bhagavad Gita bisa dipelesetkan kesimpulannya menjadi semua manusia harus turun berperang. Tantra kadang dipelesetkan menjadi belajar ngeleak (santet).
Padahal dialog Krishna dan Arjuna di Bhagavad Gita adalah sebuah dialog otentik (terjadi sesuai dengan tuntutan unik saat itu, tidak bisa ditiru serampangan di waktu lain). Pertama, perang ketika itu tidak bisa dihindarkan. Kedua, Arjuna adalah seorang ksatria. Ketiga, Krishna adalah guru hidup dengan cahaya menawan yang turun memang untuk membantu Arjuna.
Sedangkan di saat ini, banyak peperangan yang masih bisa dihindarkan terutama karena semakin majunya peradaban. Berikutnya, tidak semua manusia lahir sebagai ksatria yang berperang. Terakhir, di zaman gelap ini, sangat tidak mudah menemukan guru hidup sekaliber Krishna, sekaligus murid dengan kualitas bakti seperti Arjuna.
Tentang Tantra sebagai ilmu ngeleak, ini tidak terlalu benar sekaligus tidak terlalu salah.  Tidak terlalu benar, karena dalam Tantra - setidaknya anuttarayogatantra - titik awal sekaligus titik akhir perjalanan adalah bodhicitta (niat mulya untuk selalu menolong semuanya tanpa membeda-bedakan). Mana mungkin seseorang yang di dalam batinnya hanya mau menolong kemudian tersambung dengan ilmu santet. Tidak terlalu salah, karena kesempurnaan bodhicitta mencakup juga menolong para setan sekali pun. Karena menolong semua mahluk (termasuk setan) maka orang Tantra kadang secara keliru dikira belajar santet.

Guru Hidup
Oleh karena kompleksitas buku suci seperti inilah maka orang kebanyakan memerlukan bimbingan guru hidup. Di tangan guru hiduplah kemudian buku suci dibahasakan sesuai dengan tingkat pertumbuhan murid. Murid dengan kapasitas kecil (baru menjadi manusia setelah lama di alam bawah, banyak melakukan kesalahan, bodoh) akan diajarkan dan dilindungi dengan hukum karma. Murid dengan kemampuan besar (telah berulang-ulang lahir jadi manusia dan dewa, memiliki tabungan karma bajik yang berlimpah) akan diajarkan betapa menjijikkannya kehidupan duniawi ini agar mereka cepat terbebaskan. Murid dengan kapasitas agung (sudah tercerahkan di  kehidupan  sebelumnya   dan   lahir untuk  tugas  menolong) akan diajarkan kesempurnaan bodhicitta (menolong, melayani, menyayangi).
Mungkin itu sebabnya, di India orang suci disebut Bhagavan. Bhagavan adalah seseorang yang sudah menundukkan segala bentuk kejahatan di dalam. Dari kejahatan yang kasar (bohong, memaki, menyakiti), kejahatan yang halus (menyebut diri suci, mengaku tercerahkan), sampai dengan kejahatan yang terhalus (yang tidak bisa didefinisikan). Arti lain guru adalah seseorang dengan tumpukan kebajikan yang berlimpah. Gabungan antara kehidupan yang bersih sempurna dari kejahatan dengan tumpukan kebajikan yang berlimpah inilah, kemudian membuat seseorang Guru bisa memenuhi syarat-syarat seperti di bawah.
Pertama, guru hidup kesehariannya menenangkan,  mendamaikan. Terutama karena hasil langsung praktek spiritual mendalam adalah ketenangan, kedamaian kemudian diikuti niat mulya untuk berbagi. Kedua, dengan kualitas ketenangan dan kedamaian ini, ia kemudian menjadi magnet besar bagi banyak orang untuk belajar kebajikan. Ketiga, sifat ajarannya amat memperkaya intelek sekaligus batin. Keempat, bila mesti menundukkan orang lain, guru hidup menundukkannya dengan kasih sayang. Dalam hal berdoa, ia tidak pernah meminta. Sebaliknya, guru hidup senantiasa berdoa untuk keselamatan, kedamaian, kebebasan semuanya tanpa membeda-bedakan.

Guru Simbolik
Cuman, karena Guru hidup mengenakan tubuh manusia yang penuh ketidaksempurnaan, ia rawan disalah mengerti. Untuk itulah, manusia memerlukan guru simbolik. Dalam bahasa Jetsun Milarepa, alam menyimpan banyak sekali buku suci. Perhatikan burung yang tidak mengenal sekolah, tidak melamar pekerjaan, setiap pagi mereka bernyanyi. Pesannya sederhana, pertahankan batin yang penuh suka cita, di sana tersembunyi rahasia. Di Tibet pernah terjadi seekor kuda yang lagi hamil tua ditusuk perutnya oleh seorang perampok. Begitu bayi kudanya keluar,  Ibunya menjilati anaknya sampai kering. Setelah yakin anaknya sehat dan selamat, kemudian Ibu kuda ini mati penuh kedamaian. Inspirasi yang tersisa dari sini, seekor binatang bahkan ketika perutnya sudah luka lebar oleh sayatan pisau, masih ingat untuk melaksanakan tugas terpenting kehidupan berupa kasih sayang.
Sastrawan besar Kahlil Gibran pernah menulis, pohon adalah simbol kehidupan pertapa yang sempurna. Bertumbuh dengan keikhlasan sempurna mendekati cahaya. Dalam sebuah percakapan kosmik ada yang berbisik: “cermati pohon, ia bekerja terus menerus siang malam tapi semua bunga, buah dan oksigennya diperuntukkan buat pihak lain”. Inilah contoh-contoh guru simbolik yang tersedia berlimpah di alam. Meminjam pesan tetua di Peru yang berumur lebih dari 6.000 tahun: “tidak ada kebetulan, hanya bimbingan-bimbingan”.

Guru rahasia sesungguhnya rahasia. Tapi ada bahan renungan yang perlu diendapkan. Kapan saja cahaya di luar*)  berjumpa dengan cahaya di dalam, di sana seseorang boleh berguru pada guru rahasia. Jangan terkejut kemudian bila bisa melihat  huruf-huruf suci di dalam sini. Gabungan dari keempat guru inilah (buku suci, guru hidup, guru simbolik, guru rahasia) kemudian mungkin membawa seseorang keluar dari terowongan panjang kegelapan yang hanya berisi penderitaan. Inilah guru parama shanti.
*) Perhatikan cahaya-cahaya yang memancar dari langit. Matahari bersinar sama terangnya di negara beragama sekaligus negara atheis. Bulan bercahaya sama terangnya ke binatang sekaligus tetumbuhan. Bintang cahayanya sama saja baik ke gunung maupun sungai. Mahluk tercerahkan juga serupa, ia melayani dan menyayangi semua tanpa membeda-bedakan.
Source : Gede Prama

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites