This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Bali. Show all posts
Showing posts with label Bali. Show all posts

Monday, August 8, 2011

Anak Agung Bagus Sutedja Gubernur Bali Pertama Yang Hilang Misterius

Anak Agung Bagus Sutedja (1923 - 1966) merupakan Gubernur Bali yang pertama, ditunjuk oleh mantan  Presiden Sukarno tahun 1958 saat Bali menjadi sebuah propinsi. Sutedja merupakan putra dari Raja terakhir Jembrana, Anak Agung Bagus Negara.
Pertama kali menjabat pada tahun 1950 sampai 1958, diangkat berdasarkan keputusan Dewan Pemerintahan Daerah sebagai pemimpin badan eksekutif Bali. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) menggantikan wewenang Paruman Agung yang terdiri dari wakil-wakil delapan kerajaan di Bali sebagai badan legislatif.
Setelah sempat diselingi oleh I Gusti Bagus Oka sebagai Pejabat Sementara Kepala Daerah Bali pada tahun 1958 sampai 1959, ia kembali terpilih pada bulan Desember 1959 sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali. Masa jabatannya yang kedua berakhir beberapa bulan setelah terjadinya G30S/PKI tahun 1965. Selanjutnya ia digantikan oleh I Gusti Putu Martha.
Anak Agung Bagus Sutedja menghilang secara misterius pada tanggal 29 Juli 1966 di Jakarta. Ia diperkirakan menjadi korban penculikan politik yang terjadi pada masa itu.
Hilangnya putra Jembrana ini menimbulkan banyak spekulasi. Ada yang menyatakan, Sutedja tewas akibat dari konspirasi politik, namun ada juga yang menafsir ia pergi ke luar negeri karena dikait-kaitkan dengan tragedi berdarah 1965.
Pada masa-masa 1950-an, Sutedja dikenal dekat dengan mantan Presiden RI Soekarno. Anak Agung Istri Ngurah Sunitri (82), istri dari Sutedja pernah menyatakan, ia dan suaminya sering mendampingi Soekarno saat berkunjung ke Istana Tampaksiring dalam kegiatan kedinasan.
Pada tahun 1965-an Soekarno sering berkunjung ke Istana Tampaksiring. Saat datang ke istana ini, Soekarno sering mengajak Megawati.
Hingga  kini misteri masih tetap menyelimuti hilangnya AA Bagus Sutedja. Walaupun sudah dipelebon yang artinya sudah diakui meninggal dunia, penyebab kematiannya belum bisa diungkapkan dengan jelas.
Spekulasi terbesar yang beredar, Sutedja turut menjadi korban ‘pembersihan’ pasca G30S PKI karena dianggap dekat dengan Bung Karno. Dari kalangan yang tua-tua yang pernah merasakan pemerintahan Sutedja hanya kenangan yang bisa dilontarkan.
Beberapa kalangana menilai, Sutedja kala itu cukup bagus dalam memimpin Bali. Di masanya, kondisi politik Indonesia memang sedang memanas. Di Bali saat itu ada 2 partai besar yaitu PKI dan PNI. Menurut Sunitri, terhadap parpol ini suaminya berusaha tidak memihak ke mana pun.
Sebagai Gubernur Bali, waktu itu Sutedja diminta untuk tenang oleh Bung Karno pasca tragedi 1965. Tapi, 2 Desember 1965, Puri Negara mulai diusik dengan perusakan yang dilakukan ratusan massa. Perusakan tersebut dilakukan dengan tuduhan Puri Negara terlibat G30S PKI.
Mendapatkan kabar ini Bung Karno segera memanggil Sutedja ke Jakarta, 3 Desember 1965. Hingga menghilang pada tanggal 29 Juli 1966, Sutedja masih di Jakarta dan tinggal di Komplek Senayan Nomer 261/262.
Menurut keterangan AA Gede Agung, putra sulung dari Sutedja, tanggal 29 Juli 1966 sekitar pukul 09.00 Sutedja dijemput 4 orang berseragam militer dengan menggunakan mobil Nissan. Sutedja diminta datang ke SKOGAR di Merdeka Barat. Menurut Gede Agung, tanpa kecurigaan sedikit pun ayahnya memenuhi panggilan ini.
Saat sore menjelang tanpa ada kabar, ibunya Anak Agung Istri Ngurah Sunitri gelisah dan mendatangi markas SKOGAR. Di sini ia mendapatkan jawaban, tidak ada yang menjemput atau memerintahkan Sutedja untuk datang ke SKOGAR. Mendapati jawaban ini, Sunitri langsung melapor ke Mendagri. Proses pencarian yang dilakukan sia-sia. Nasib Sutedja tidak jelas diketahui.
Pencarian yang dilakukan keluarga Puri Negara terus berlanjut dari hilangnya sampai masa pemerintahan Soeharto hingga Megawati. Pencarian panjang ini akhirnya ditutup dengan upacara pelebon pada 23 Juli 2006 lalu. Upacara ini dilakukan setelah keluarga puri mendapatkan pawisik (petunjuk gaib).
 

Sejarah Letusan Gunung Agung

 Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Pulau Bali. Gunung berapi ini mulanya memiliki ketinggian sekitar 3.142 meter di atas pemukaan laut (dpl), namun setelah meletus pada tahun 1963 diperkirakan ketinggiannya turun menjadi 2.920—3.014 meter dpl. Saat ini, puncak tertinggi Gunung Agung terletak di bagian barat daya, tepat di atas Pura Besakih.
Gunung Agung merupakan sebuah gunung vulkanik tipe monoconic strato yang tingginya mencapai sekitar 3.142 meter di atas permukaan laut. Gunung tertinggi di Bali ini termasuk muda dan terakhir meletus pada tahun 1963 setelah mengalami tidur panjang selama 120 tahun.
Sejarah aktivitas Gunung berapi Agung memang tidak terlalu banyak diketahui. Catatan sejarah mengenai letusan gunung ini mulai muncul pada tahun 1808. Ketika itu letusan disertai dengan uap dan abu vulkanik terjadi. Aktivitas gunung ini berlanjut pada tahun 1821, namun tidak ada catatan mengenai hal tersebut. Pada tahun 1843, Gunung Agung meletus kembali yang didahului dengan sejumlah gempa bumi. Letusan ini juga menghasilkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung.
Sejak 120 tahun tersebut, baru pada tahun 1963 Gunung Agung meletus kembali dan menghasilkan akibat yang sangat merusak. Berdasarkan buku yang dikarang Kusumadinata pada tahun 1979 gempa bumi sebelum letusan gunung berapi yang saat ini masih aktif tersebut terjadi pada 16-18 Februari 1963. Gempa tersebut dirasakan dan didengar oleh masyarakat yang hidup di sekitar Gunung Agung.
Letusan Gunung Agung yang diketahui sebanyak 4 kali sejak tahun 1800, diantaranya : Di tahun 1808 ; Dalam tahun ini dilontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa. 1821 Terjadi letusan normal, selanjutnya tidak ada keterangan. Tahun 1843 Letusan didahului oleh gempa bumi.  Material yang dimuntahkan yaitu abu, pasir, dan batu apung. 
Selanjutnya dalam tahun 1908, 1915, dan 1917 di berbagai tempat di dasar kawah dan pematangnya tampak tembusan fumarola. 1963 Letusan dimulai tanggal 18 Pebruari 1963 dan berakhir pada tanggal 27 Januari 1964.  Letusan bersifat magnatis. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.

Karakter Letusan
Pola dan sebaran hasil letusan lampau sebelum tahun 1808, 1821, 1843, dan 1963 menunjukkan tipe letusan yang hampir sama, diantaranya adalah bersifat eksplosif  (letusan, dengan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu), dan efusif berupa aliran awan panas, dan aliran lava (Sutukno B., 1996).

Periode Letusan
Dari 4 kejadian letusan masa lampau, periode istirahat Gunung Agung dapat diketahui yakni terpendek 16 tahun dan terpanjang 120 tahun.

Letusan 1963 ; Kronologi Letusan tahun 1963.
Lama letusan Gunung Agung tahun 1963 berlangsung hampir 1 tahun, yaitu dari pertengahan Pebruari 1963 sampai dengan 26 Januari 1964, dengan kronologinya sebagai berikut : .

16 Pebruari 1963 : Terasa gempa bumi ringan oleh penghuni beberapa Kampung Yehkori (lebih kurang 928 m dari muka laut) di lereng selatan, kira-kira 6 kilometer dari puncak Gunung Agung.

17 Pebruari 1963 : Terasa gempa bumi di Kampung Kubu di pantai timur laut kaki gunung pada jarak lebih kurang 11 km dari lubang kepundannya.
18 Pebruari 1963 : Kira-kira pukul 23.00 di pantai utara terdengar suara gemuruh dalam tanah.

19 Pebruari 1963 : Pukul 01.00 terlihat gumpalan asap dan bau gas belerang. Pukul 03.00 terlihat awan yang menghembus dari kepundan,makin hebat bergumpal-gumpal dan dua jam kemudian mulai terdengar dentuman yang nyaring untuk pertama kalinya. Suara yang lama bergema ini kemudian disusul oleh semburan batu sebesar kepalan tangan dan diakhiri oleh sembuaran asap berwarna kelabu kehitam-hitaman . Sebuah bom dari jauh tampak sebesar buah kelapa terpisah dari yang lainnya dan dilontarkan lewat puncak ke arah Besakih. Penghuni Desa Sebudi dan Nangka di lereng selatan mulai mengungsi, terutama tidak tahan hawa sekitarnya yang mulai panas dan berbau belerang itu. Di sekitar Lebih, udara diliputi kabut, sedangabu mulai turun.
Air di sungai mulai turun. Air di sungai telah berwarna coklat dan kental membawa batu dengan suara gemuruh, tanda lahar hujan permulaan. Penghuninya tetap tenang dan melakukan persembahyangan. Pukul 10.00 terdengar lagi suara letusan dan asap makin tebal. Pandangan ke arah gunung terhalang kabut, sedang hujan lumpur mulai turun di sekitar lerengnya.
Di malam hari terlihat gerakan api pada mulut kawah, sedangkan kilat sambung-menyambung di atas puncaknya.

20 Pebruari 1963 : Gunung tetap menunjukkan gerakan berapi. 06.30 terdengar suara letusan & terlihat lemparan bom lebih besar. 07.30 penduduk Kubu mulai panik, banyak diantara mereka mengungsi ke Tianyar, sedangkan penghuni dari lereng selatan pindah ke Bebandem dan Selat.

21 Pebruari 1963 : Asap masih tetap tebal mengepul dari kawah.

22 Pebruari 1963 : Kegiatan terus menerus berupa letusan asap serta loncatan api dan suara gemuruh.

23 Pebruari 1963 : Pukul 08.30 sekitar Besakih, Rendang dan Selat dihujani batu kecil serta tajam, pasir serta abu.

24 Pebruari 1963 : Hujan lumpur lebat turun di Besakih mengakibatkan beberapa bangunan Eka Dasa Rudra roboh. Penduduk Temukus mengungsi ke Besakih. Awan panas letusan turun lewat Tukad Daya hingga di Blong.

25 Pebruari 1963 : Pukul 15.15 awan panas turun di sebelah timurlaut lewat Tukad Barak dan Daya. Lahar hujan di Tukad Daya menyebabkan hubungan antara Kubu dan Tianyar terputus. Desa Bantas-Siligading dilanda awan panas mengakibatkan 10 orang korban. Lahar hujan melanda 9 buah rumah di Desa Ban , korban 8 orang.

26 Pebruari 1963 : Lava di utara tetap meleler. Lahar hujan mengalir hingga di Desa Sogra, Sangkan Kuasa. Asap tampak meningkat dan penduduk Desa Sogra, Sangkan Kuasa, Badegdukuh dan Badegtengah mengungsi ke selatan.
Di Lebih hujan yang agak kental dan gatal turun. Lahar terjadi di sekitar Sidemen. Juga lahar mengalir di utara di Tukad Daya dan Tukad Barak. Pukul 18.15 hujan pasir di Besakih. Pangi diliputi hawa belerang yang tajam sekali. Penduduknya mengungsi ke Babandem. Kemudian kegiatan Gunung Agung ini terus menerus berlangsung, boleh dikatakan setiap hari hujan abu turun, sementara sungai mengalirkan lahar dan lava terus meleler ke utara.

17 Maret 1963 : Merupakan puncak kegiatan. Tinggi awan letusan mencapai klimaksnya pada pk. 05.32. Pada saat itu tampak awan letusannya menurut pengamatan dari Rendang sudah melewati zenith dan keadaan ini berlangsung hingga pukul 13.00. Awan panas turun dan masuk ke Tukad Yehsah, Tukad Langon, Tukad Barak dan Tukad Janga di selatan. Di utara gunung sejak pukul 01.00 suara letusan terdengar rata-rata setiap lima detik sekali. Awan panas turun bergumpal-gumpal menuju Tukad Sakti, Tukad Daya dan sungai lainnya di sebelah utara. Mulai pukul 07.40 lahar hujan terjadi mengepulkan asap putih, dan ini berlangsung hingga pukul 08.10.
Pukul 08.00 turun hujan abu, pada pukul 09.20 turun hujan kerikil, dan sementara itu awan panas pun turun bergelombang.
Pada pukul 11.00 hujan abu makin deras hingga penglihatan sama sekali terhalang.
Pada pukul 12.00 lahar yang berasap putih itu mulai meluap dari tepi Tukad Daya. Baru pukul 12.45 hujan abu reda dan kemudian pukul 15.30 suara letusan pun berkurang untuk selanjutnya hilang sama sekali.  Adapun sungai yang kemasukan awan panas selama puncak kegiatan ini adalah sebanyak lk. 13 buah di lereng selatan dan 7 buah di lereng utara.  Jarak terjauh yang dicapainya adalah lebih kurang 14 kilometer, ialah di Tukad daya di utara. Sebelah barat dan timur gunung bebas awan panas.  Lamanya berlangsung paroksisma pertama ini yakni selama lebih kurang 10 jam yakni dari pukul 05.00 hingga pukul 15.00.

21 Maret 1963 : Kota Subagan, Karangasem terlanda lahar hujan hingga jatuh korban lebih kurang 140 orang.  Setelah letusan dahsyat pada tanggal 17 Maret ini, maka aktivitasnya berkurang, sedang suara gemuruh yang tadinya terus menerus terdengar hilang lenyap. Demikian leleran lava ke utara berhenti pada garis ketinggian 501,64 m dan mencapai jarak lebih kurang 7.290 m dari puncak.

16 Mei 1963 : Paroksisma kedua diawali oleh letusan pendahuluan, mula-mula lemah dan lambat laun bertambah kuat.  Pada sore hari 16 Mei, kegiatan meningkat lagi terus meneru, hingga mencapai puncaknya pada pukul 17.07. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama. Awan letusannya mencapai tinggi kira-kira 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13.  Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lebih kurang 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lebih kurang 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama. Awan letusannya mencapai tinggi lebih kurang 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13.  Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lk. 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lebih kurang 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00.

Nopember 1963 : Tinggi asap solfatara/fumarola mencapai lebih kurang 500 m di ats puncak.  Sejak Nopember warna asap letusan adalah putih.
10 Januari 1964 : Tinggi hembusan asap mencapai 1500 m di atas puncak.
26 Januari 1964 : Pukul 06.50 tampak kepulan asap dari puncak Gunung Agung berwarna kelabu dan kemudian pada pukul 07.02, 07.05 dan 07.07 tampak lagi letusan berasap hitam tebal serupa kol kembang, susul menyusul dari tiga buah lubang, mula-mula dari sebelah barat lalu sebelah timur mencapai ketinggian maksimal lebih kurang 4.000 m di atas puncak.  Seluruh pinggir kawah tampak ditutupi oleh awan tersebut. Suara lemah tetapi terang terdengar pula.

27 Januari 1964 : Kegiatan Gunung Agung berhenti
Produk Letusan 1963 Lahar Hujan: Sesuai dengan letak geografi dari Gunung Agung yang bertindak sebagai penangkap hujan angin tenggara yang menghembus, lahar besar dimulai di lereng utara, kemudian di lereng timur menenggara untuk kemudian lambat laun bergeser ke jurusan barat dan mencapai klimaksnya di lereng selatan baratdaya. Lahar besar ke selatan mulai meluas pada ketinggian 500 m antara Rendang dan padangkerta. Kemudian di bawah Tukad Jangga, yakni di Tukad Krekuk dan Jasi, Bugbug dan akhirnya di Tukad Unda.  Mengingat daerah utara terletak dalam bayangan hujan, laharnya bukan bayangan daripada endapan lepas, yang sebenarnya maksimal jatuh di sebelah sini.

Aliran Lava : Lava yang meleler antara 19 Pebruari dan 17 Maret 1963 mengalir dari kawah utama di puncak ke utara, lewat tepi kawah yang paling rendah, berhenti pada garis ketinggian 505,64 m dan mencapai jarak lebih kurang 7.290 m.  Isi lava tersebut ditaksir sebanyak lebih kurang 339,235 juta m3.

Bahan Lepas : Terdiri dari bom gunungapi, lapili, pasir dan abu, baik berasal dari awan panas letusan maupun dari ledakan kawah pusat. Jumlah seluruhnya selama roda kegiatan berlangsung : Eflata (bom, pasir dan abu) lebih kurang 380,5 . 106 m3, Ladu lebih kurang 110,3 . 106 m3.

Awan Panas Gunung Agung : Di Gunung Agung terdapat dua macam awan panas, yakni awan panas letusan dan awan panas guguran. Awan panas letusan terjadi pada waktu ada letusan besar. Pada waktu itu maka bagian bawah dari tiang letusan yang jenuh dengan bahan gunung api melampaui tepi kawah dan meluncur ke bawah. Bergeraknya melalui bagian yang rendah di tepi kawah, ialah lurah dan selanjutnya mengikuti sungai. Kecepatan dari awan letusan ini menurut pengamatan dari Pos Rendang adalah rata-rata 60 km per jam dan di sebelah selatan mencapai jarak paling jauh 13 km, yakni di Tukad Luah dan di sebelah utara 14 km di Tukad Daya.

Menurut Suryo (1964) selanjutnya, awan panas guguran adalah awan panas yang sering meluncur dari bawah puncak (tepi kawah). walaupun tidak ada letusan dapat terjadi awan panas guguran. Dapat pula terjadi apabila terjadi bagian dari aliran lava yang masih panas gugur, seperti terjadi pada waktu lava meleler di lereng utara.
Daerah yang terserang awan panas letusan pada kegiatan 1963 terbatas pada lereng selatan dan utara saja, karena baik di barat maupun di sebelah timur kawah ada sebuah punggung. Kedua punggung ini memanjang dari barat ke timur. Awan panas letusan yang melampaui tepi kawah bagian timur dipecah oleh punggung menjadi dua jurusan ialah timur laut dan tenggara. Demikian awan panas di sebelah barat dipecah oleh punggung barat ke jurusan baratdaya dan utara. Awan panas letusan yang terjadi selama kegiatan 1963 telah melanda tanah seluas lebih kurang 70km2 dan menyebabkan jatuh 863 korban manusia.
 
Keterangan Foto : Letusan. Gunung Agung 12 Maret 1963 dilihat dari Pertigaan Subagan Karangasem ( K. Kusumadinata, 1963)
 

Saturday, March 19, 2011

Proses Ngeleak di Kuburan Pada Kajeng Kliwon Nyitan

 Pada dasarnya ilmu ini sangat rumit dan rahasia sekali. Oleh karena itu jarang seorang guru mau dengan terang-terangan membeberkan ilmu leak.

Sebelum seorang belajar ilmu leak terlebih dahulu harus diketahui otonan atau hari lahir orang tersebut. Hal ini sangat penting, karena kualitas dari ilmu yang dianut bisa diketahui dari otonannya. Satu contoh apabila murid mempunyai otonan Sukra (Jumat) Pon Medangsia berarti dewanya adalah Brahma, otomatis karakter orang tersebut cenderung emosional dalam hal apapun, dan digandrungi perempuan. Sang guru harus hati-hati memberikan pelajaran ini. Kalau tidak murid akan celaka oleh ilmu tersebut. Setelah diketahui barulah proses belajar dimulai, pertama-tama murid harus ngewinten Brahma Widya, dalam bahasa lontar disebut ngerangsukang kawisesan atau memasukkan ilmu kesaktian dalam tubuh, pada hari yang dipilih sang guru.

Tahap dasar, diperkenalkan dengan Aksara Wayah (sastra simbol) atau Modre, dalam hal ini tidak bisa dieja, karena aksara tersebut lebih menyerupai simbol. Tahapan berikutnya murid dirajah (ditulisi) seluruh tubuh dari atas sampai bawah oleh sang guru. Semua pekerjaan tersebut dilakukan di kuburan pada saat Kajeng Kliwon Nyitan.

Kemudian sang murid harus mengucapkan lima sumpah di kuburan : (1) Hormat dan taat dengan ajaran yang diberikan oleh guru, (2) Selalu melakukan ajapa-ajapa atau mantra-mantra menyembah Siwa dan Durga dalam bentuk ilmu kawisesan, (3) tidak boleh pamer kalau tidak kepepet, selalu menjalankan dharma, (4) Tidak boleh makan daging kaki empat, tidak boleh bersetubuh dengan pasangan bukan sah, (5) Tidak boleh menyakiti atau dengan cara apa pun melalui ilmu yang dipelajari.

Mungkin karena sumpah nomor empat (4) ini sangat ditakuti, akhirnya kebanyakan ilmu ini dipelajari oleh perempuan, sebab (mungkin-red) perempuan lebih kuat menahan nafsu birahi dari laki-laki. Di Bali yang namanya Rangda selalu identik dengan wajah seram, tetapi di Jawa disebut Rondo yang berarti janda. Inilah alasannya kenapa dahulu para janda lebih menguasai ilmu pengeleakan dari pada laki-laki. Pada dasarnya ilmu ini berasal dari tanah Jawa, campuran aliran Siwa dan Budha, yang disebut dengan Bajrayana.


Tingkat satu (I) diajari bagaimana mengendalikan pernafasan, yang di Bali disebut mekek angkihan atau Pranayama. Pada tingkat dua (II) diajarkan visualisasi, disebut Ninggalin Sanghyang Menget. Pada tingkat tiga (III) diajarkan, bagaimana kita melindungi diri dengan tingkah laku yang halus tanpa emosi dan dendam. Ajaran ini disebut pengraksa jiwa. Tingkat empat (IV) diajarkan kombinasi antara gerak pikiran dengan gerak tubuh. Dalam bahasa yoga disebut mudra. Karena mudra ini berupa tarian jiwa akhirnya orang yang melihat atau nonton dibilang nengkleng (berdiri dengan kaki satu). Mudra yang kita pelajari persis seperti tarian Siwa Nata Raja.

Tingkat lima (V) diajar meditasi. Dalam ajaran pengeleakan disebut Ngregep, yaitu duduk bersila, tangan disilangkan di depan dada sambil mengatur pernafasan sehingga pikiran kita tenang. Tingkat enam (VI) diajarkan ngereh atau ngelekas yaitu ajaran bagaimana melepas roh (mulih Sanghyang Atma Ring Bayu Sabda Idep) melalui kekuatan pikiran dan bathin dalam bahasa sekarang disebut levitasi, kita memang melihat badan kita terbujur kaku tanpa daya. Kesadaran sudah pindah ke badan halus. Pada saat inilah orang disebut berhasil dalam ilmu leak. Teknik ini lumayan berbahaya kalau tidak waspada dan kuat iman serta mental kita akan keliru, bahkan kita bisa tersesat di alam gaib. Kalau sampai tersesat dan lama bisa mati. Ini disebut mati suri, maka Bhagawadgita benar sekali (apapun yang kamu ingat pada saat kematian kesanalah kamu sampai … dan apa pun yang kamu pikirkan begitulah jadinya).

Dibutuhkan ketekunan, puasa, berbuat baik. Sebab ilmu ini tidak akan berhasil bilamana dalam pikiran menyimpan perasaan dendam, apalagi kita belajar ilmu ini untuk tujuan yang tidak baik, tentu tidak akan mencapai tujuannya. Kendati demikian godaan selalu akan datang seperti, nafsu seks meningkat. Ini alasannya kenapa tidak boleh makan daging kaki empat, dan dianjurkan tidur di atas jam 12 malam agar kondisi agak lemas sehingga nafsu seks berkurang. Seorang guru berkata, “kalau ada orang mempelajari leak tidur sore-sore disebut Leak Sanje.

Kewajiban lainnya adalah saat tengah malam tepat jam 12 pelaku ilmu ini diwajibkan untuk meditasi sambil mencoba melepas roh, tetapi dianjurkan yang dekat-dekat dulu. Mungkin ke parit, sawah atau sungai. Celakanya, apabila melepas roh pas lewat di rumah tetangga yang sedang mempunyai bayi, maka otomatis bayi tersebut pasti terbangun dan menangis teriak-teriak. Hal ini disebabkan frekuensi bayi sama seperti orang mrogo sukma tadi. Bayi tersebut tidak takut cuma kaget aja ada klebatan lewat. Mirip handphone adu signal dan blank. Inilah yang dikatakan orang awam bahwa bayi itu amah leak, padahal tidak. Dalam dunia leak, ada aturan dilarang keras untuk lewat atau berada di keluarga yang mempunyai bayi untuk melepas roh (ngelekas, ngereh). Sebab, bagi yang jahil tidak tertutup kemungkinan melepas roh dan mondar mandir di depan rumah orang yang punya bayi, ini yang sering terjadi di Bali, sehingga citra leak rusak dan dituduh menyakiti.

Apalagi ada orang sakit keras kemudian pelaku ilmu ini iseng lewat atau sekedar jenguk melalui rohnya, maka sudah dipastikan orang tersebut kaget dan bisa jadi denyut jantung berhenti. Inilah hal-hal yang oleh orang awam dikatakan, bahwa leak itu jahat, makanya sang balian yang bijak akan memagari rumah orang sakit atau yang punya bayi itu dengan aksara tertentu, yang artinya sebagai simbol para penganut leak dilarang masuk. Apabila ini dilanggar perang antara leak dan balian pun terjadi. Selanjutnya siapa kalah dan menang tergantung siapa yang lebih mumpuni. Disini tidak lagi berbicara dari perguruan leak mana, atau tamatan perguruan leak mana mereka, tetapi sudah perang kawisesan. Inilah yang sering terjadi di Bali yang disebut dengan siat peteng atau perang maya. Pada umumnya dari pihak leak yang sering kalah, sebab leak tidak mempelajari ilmu menyerang, namun ilmu bertahan, sedangkan balian bisa saja ngiwa tengen.

Sangkepan Leak

Kata ini juga sering kita dengar. Sehingga timbul pertanyaan apakah leak ada rapatnya, atau reuni? Yang benar adalah “dalam dunia leak sama seperti perkumpulan spiritual, pada hari-hari tertentu pada umumnya Kajeng Kliwon, kaum leak mengadakan puja bakti bersama memuja Siwa, Durga, Bherawi yang biasanya dipusatkan di Pura Dalem atau di Kuburan, Prajapati dalam bentuk Ndihan (nyala api), bukan kera, anjing dan lain-lain.”

Dengan demikian sekali lagi ditekankan, bahwa ilmu leak bukan ilmu mengubah wujud. Jadi kalau ada yang bilang melihat kera, pitik bengil dan lain-lain, yang melihat kena sihir.

Seperti dalam sastra agama disebutkan, “ya sakti sang sajana darma raksaka, orang bijaksana pasti berpegang teguh pada darma, dan orang yang berpegang darma sudah pasti bijaksana”.

Orang yang sakti belum tentu suci hatinya, namun orang yang suci sudah pasti sakti tingkah lakunya. Jaman sekarang sulit membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar, kecuali bertanya pada kedalaman hati kita masing-masing. Sebuah lentera akan padam apinya, apabila minyaknya mengering, namun jangan pernah padamkan api rohani kebersamaan melalui persahabatan.

Monday, March 14, 2011

SARAT DARMO GANDUL (2)

Adipati Pengging dan Ponorogo

Sang Patih diperintahkan untuk memanggil adipati Pengging dan Adipati Ponorogo, karena putranya Raden Gugur di Majapahit masih kecil, belum saatnya maju perang. Setelah memberi perintah demikian, Sang Prabu kemudian pamit hendak mengungsi ke Bali. Ia diiringkan dua abdi terkasih, Sabdapalon dan Nayagenggong.

Ketika Sang Prabu memberi perintah demikian, wadyabala Demak sudah membuat abrisan mengepung negara, maka terburu-buru perjalanannya. Wadya Demak kemudian perang dengan pasukan Majapahit. Para Sunan sendiri yang memimpin peperangan. Patih Majapahit mengamuk di tengah peperangan. Para Bupati Nayaka Majapahit delapan orang juga ikut mengamuk. Perang itu sangat ramai. Pasukan Demak tiga puluh ribu, pasukan Majapahit hanya tiga ribu. Karena Majapahit digulung musuh yang jumlahnya sekian banyak itu, prajuritnya banyak yang tewas berguguran. Hanya Patih dan Bupati Nayaka yang mengamuk semakin maju. Setiap prajurit Demak yang diterjang pasti mati tegelempang. Putra Sang Prabu bernama Raden Lembu Pangarsa mengamuk di tengah peperangan, bertanding dengan Sunan Kudus. Ketika sedang ramai-ramainya perang tanding itu, Patih Mangkurat dari Demak meluncurkan tombaknya. Putra raja terluka dan semakin hebat mengamuk. Ia menerjang bagaikan banteng terluka, tidak ada yang ditakuti.

Patih Majapahit tidak mempan senjata apapun, seperti tugu baja, tidak ada senjata yang bisa menggores tubuhnya, siapa pun yang diterjang bubar berlarian, yang menghadang terjungkal mampus. Bangkai manusia tumpang tindih. Patih diberondong (peluru) dari kejauhan. Jatuhnya peluru seperti hujan jatuh di batu watu. Sunan Ngundung menghadang kemudian memedangnya tetapi tidak mempan. Sunan Ngundung balas ditombak, tewas. Patih lalu dikerubuti prajurit Demak. Pasukan Majapahit lama-lama habis. Seberapa kuat satu orang sendirian, akhirnya Patih Majapahit gugur. Tetapi kuwedane musnah dan meninggalkan suara, “Ingat-ingat orang Islam, kalian diberi kebaikan oleh rajaku tetapi membalas kejahatan, tega merusak negara Majapahit, merebut negara melakukan pembunuhan. Kelak kubalas, kuajari kalian benar salah, kutiup kepala kalian, kucukur rambut kalian bersih-bersih.”

Setewasnya Patih Majapahit, para Sunan kemudian masuk ke istana. Tetapi Sang Prabu sudah tidak ada, yang ada hanya Ratu Mas, yaitu putri Campa, Sang Putri diajak menyingkir ke Bonang. Para prajurit Demak kemudian masuk ke istana. Mereka merampok sampai bersih. Orang kampung tidak ada yang berani melawan. Raden Gugur yang masih kecil melarikan diri. Adipati Terung kemudian masuk ke dalam istana, membakari semua buku-buku ajaran Buddha. Orang-orang di sekeliling istana bubar, beteng dan bangsal dijaga anak buah Adipati Terung. Orang Majapahit yang tidak mau takhluk kemudian mengungsi ke gunung dan hutan-hutan. Adapun yang mau takhluk, kemudian dikumpulkan dengan orang Islam, disuruh bersyahadat. Mayat para keluarga istana dan pamong praja dikumpulkan, dikubur di sebelah tenggara istana. Kuburan tadi dinamakan Bratalaya. Menurut suatu riwayat disitu juga kuburan Raden Lembu Pangrasa.

Pesantren Ampelgading
Kabupaten Terung

Sesudah tiga hari, Sultan Demak berangkat ke Ampel. Adapun yang ditugaskan menunggu di Majapahit adalah Patih Mangkurat serta Adipati Terung. Mereka diperintahkan menjaga keamanan keadaan dan segala kemungkinan yang terjadi. Sunan Kudus menjaga di Demak menjadi wakil Sang Prabu. Di Kabupaten Terung juga dijaga ulama tiga ratus, setiap malam mereka shalat hajat serta tadarus Al Qur’an. Sebagian pasukan dan para Sunan ikut Sang Prabu ke Ampelgading. Sunan Ampel sudah wafat, hanya tinggal istrinya. Istri beliau asli dari Tuban, putra Arya Teja. Setelah wafatnya Sunan Ampel, Nyai Ageng menjadi sesepuh orang Ampel. Sang Prabu Jambuningrat sesampainya di Ampel, kemudian menghaturkan sembah kepada Nyai Ageng. Para Sunan dan para Bupati berganti-ganti menghaturkan sembah kepada Nyai Ageng. Prabu Jimbuningrat berkata bahwa dirinya baru saja menyerbu majapahit, dan melaporkan hilangnya ayahanda serta Raden Gugur. Ia juga melaporkan kematian Patih Majapahit dan berkata bahwa dirinya sudah menjadi raja seluruh tanah Jawa bergelar Senapati Jimbun. Beliau meminta restu, agar langgeng bertahta dan anak keturunannya nanti jangan ada yang memotong.

Nyai Ageng Ampel mendengar perkataan Prabu Jimbun, menangis seraya merangkul Sang Prabu. Hati Nyai Ageng tersayat-sayat perih. Demikian ia berkata “Cucuku, kamu dosa tiga hal. Melawan raja dan orang tuamu, serta yang memberi kedudukan sebagai bupati. Mengapa kamu tega merusak tanpa kesalahan. Apa tidak ingat kebaikan Uwa Prabu Brawijaya? Para ulama diberi kedudukan dan sudah membuahkan rizki sebagai sumber makannya, serta diberi kemudahan dan dibebaskan menyebarkan agama? Seharusnya kamu sangat berterima kasih, tapi akhirnya malah kamu balas kejahatan, kini mati hidupnya beliau pun tidak ada yang tahu.”

Nyai Ageng kemudian menanyai Sang Prabu, katanya, “Angger ! Aku akan bertanya kepada kamu, jawablah sebenarnya, ayahandamu yang benar itu siapa? Siapa yang mengangkat kamu menjadi raja di tanah Jawa dan siapa yang mengizinkan kamu? Apa sebabnya kamu menganiaya orang tanpa dosa?”

Raden Patah kemudian menjawab, bahwa Prabu Brawijaya adalah benar-benar ayahandanya yang mengangkat dirinya menjadi raja memangku tanah Jawa dan semua bupati pesisir, dan yang mengizinkan para Sunan. Mengapa negara majapahit dirusak, karena Sang Prabu Brawijaya tidak berkenan masuk agama Islam, masih mempercayai agama kafir, Buda kawak dawuk seperti kuwuk.

Nyai Ageng mendengar jawaban Prabu Jimbun, kemudian menjerit seraya merangkul Sang Prabu, dengan berkata, “Angger! Ketahuilah, kamu itu dosa tiga hal mestinya kamu dikutuk oleh Gusti Allah. Kamu berani melawan Raja lagi pula orang tuamu sendiri, serta orang yang memberi anugrah kepada kamu. Kamu beran-beraninya mengganggu orang tanpa dosa. Adanya Islam dan kafir siapa yang menentukan, selain hanya Gusti Allah sendiri. Orang beragama itu tidak boleh dipaksa, harus keluar dari keinginan diri sendiri. Orang yang kukuh memegang agamanya sampai mati itu utama. Apabila Gusti Allah sudah mengizinkan, tidak usah disuruh, sudah pasti dengan sendirinya memeluk agama Islam. Gusti Allah bersifat rahman, tidak memerintahkan dan tidak menghalangi kepada orang beragama. Semua ini atas kehendaknya sendiri-sendiri.

Gusti Allah tidak menyiksa orang kafir yang tidak bersalah, serta tidak memberi ganjaran kepada orang Islam yang bertindak tidak benar, hanya benar dan salah yang diadili dengan keadilan. Ingat-ingatlah asal-asalmu, ibu-mu Putri Cempa menyembah Pikkong, berwujud kertas atau patung batu. Kamu tidak boleh benci kepada orang yang beragama Buddha. Matamu itu berkacalah, agar tidak blero penglihatanmu, tidak tahu yang benar dan yang salah. Katanya anaknya Sang Prabu, kok tega menelan kepada ayahanda sendiri. Bisa-bisanya sampai hati merusak tata krama. Berbeda matanya orang Jawa. Orang Jawa matanya hanya satu, maka ia menjadi tahu benar dan salah, tahu yang baik dan yang buruk, pasti hormat kepada ayah, kedua kepada raja yang memberi anugrah, ia wajib dijunjung tinggi.

Ikhlasnya hati bakti kepada ayah, tidak berbakti kepada orang kafir, karena sudah kewajiban manusia berbakti kepada orang tuanya. Kamu aku dongengi, Wong Agung Kuparman, itu beragama Islam, punya mertua kafir, mertuanya benci kepada Wong Agung karena lain agama, mertuanya selalu mencari cara agar menantunya mati. Tetapi Wong Agung selalu hormat dan sangat menjunjung tinggi kedua orang tuanya. Ia tidak memandang orang tua dari segi kekafirannya, tetapi posisinya sebagai orangtuanya. Maka Wong Agung selalu menjunjung hormat kepaa mertuanya itu. Itulah angger yang dinamakan orang berbudi baik. Tidak seperti tekadmu, ayahanda disia-siakan, mentang-mentang kafir Buddha tidak mau berganti agama. Itu bukan patokanmu. Aku akan bertanya sekarang, apakah kamu sudah memohon kepada orang tuamu, agar beliau pindah agama? Mengapa negaranya sampai kamu rusak itu bagaimana?

Prabu Jimbun berkata, bahwa ia belum memohon pindah agama, sesampainya di Majapahit langsung saja mengepung. Nyai Ageng Ampel tersenyum sinis dan berkata, “Tindakanmu itu makin salah. Para Nabi di jaman kuno, ia berani kepada orang tuanya itu karena setiap hari sudah mengajak berpindah agama, bahkan sudah ditunjukkan mukjizat kepadanya, tetapi tidak berkenan. Karena setiap hari sudah dimohon agar memeluk agama Islam, tetapi ajakan tadi tidak dipikirkan, masih melestarikan agama lama, maka kemudian dimusuhi. Jika demikian caranya, meskipun melawan orang tua, lahir batin tidak salah. Tapi orang seperti kamu? Mukjizatmu apa? Apabila benar Khalifatullah berwenang mengganti agama, coba keluarkan apa mukjizatmu, aku lihat?”

Prabu Jimbun mengakui bahwa ia tidak memiliki mukjizat apa-apa, hanya menurut perkataan buku, katanya apabila mengislamkan orang kafir besok akan mendapat ganjaran surga. Nyai Ageng Ampel tersenyum tetapi tambah amarahnya. Kata-kata saja koq dipercayai, pun bukan buku dari leluhur. Orang mengembara kok diturut perkataanya, yang mendapat celaka ya kamu sendiri. Itu pertanda ternyata masih mentah pengetahuanmu. Berani kepada orang tua, karena keinginanmu menjadi raja, kesusahannya tidak dipikir. Kamu itu bukan santri yang tahu sopan santun, hanya mengandalkan surban putih, tetapi putihnya kuntul, yang putih hanya di luar, di dalam maerah. Ketika kakekmu masih hidup, kamu pernah berkata bila akan merusak Majapahit, kakekmu melarang. Malah berpesan dengan sungguh-sungguh jangan sampai memusuhi orang tua. Sekarang kakekmu sudah wafat, wasiatnya kamu langgar. Kamu tidak takut akibatnya? Kini kamu minta izin kepadaku, untuk menjadi raja di tanah Jawa, aku tidak berwenang mengizinkan, aku rakyat kecil dan hanya perempuan, nanti buwana balik namanya. Karena kamu yang semestinya memberi izin kepadaku, karena kamu Khalifutullah di tanah Jawa, hanya kamu sendiri yang tahu, seluruh kata-katamu lidah api. Aku sudah tuwa tiwas, sedangkan jika kamu nanti tia, akan tetap menjadi tuanya seorang raja.”

Nyai Ageng Ampel

Nyai Ageng Ampel berkata lagi, “Cucu! Kamu aku ceritakan sebuah kisah, dalam Kitab Hikayat diceritakan di tanah Mesir, Kanjeng Nabi Dawud, putranya menginginkan tahta ayahandanya. Nabi Dawud sampai mengungsi dari negara, putranya kemudian menggantikannya menjadi raja. Tidak lama kemudian Nabi Dawud bisa kembali merebut negaranya. Putranya naik kuda melarikan diri kehutan, kudanya lepas tersangkut-sangkut pepohonnan, sampa iia tersangkut tergantung di pohon. Itulah yang dinamakan hukum Allah.

Ada lagi cerita Sang Prabu Dewata Cengkar, ia memburu-buru tahta ayahandanya, tetapi kemudian dikutuk oleh ayahandanya kemudian menjadi raksasa, setiap hari makan manusia. Tidak lama kemudian, ada Brahmara dari tanah seberang datang ke Jawa bernama Aji Saka. Aji Saka memamerkan ilmu sulap di tanah Jawa. Orang jawa banyak yang cinta kepada aji Saka, dan benci kepada Dewata Cengkar. Ajisaka diangkat menjadi raja, Dewata Cengkar diperangi sampai terbirit-birit, tercebur ke laut, dan berubah menjadi buaya, tidak lama kemuian mati. Ada lagi cerita di Negara Lokapala juga demikian, Sang Prabu Danaraja berani kepada ayahandanya, hukumnya masih seperti yang kuceritakan tadi, semua menemui sengsara. Apa lagi seperti kamu, memusuhi ayahanda yang tanpa tata susila, kamu pasti celaka, matimu pasti masuk neraka, yang demikian itu hukum Allah”. Sang Prabu Jimbun mendengar kemarahan eyang putrinya menjadi sangat menyesal di hati, tetapi semua sudah terjadi.

Nyai Ageng Ampel masih meneruskan gejolak amarahnya, “Kamu itu dijerumuskan oleh para ulama dan para Bupati. Tapi kamu koq mau menjalani, yang mendapat celaka hanya kamu sendiri, lagi pula kehilangan ayah, selama hidup namamu buruk, bisa menang perang tetapi musuh orang tua raja. Karena itu bertobatlah kepada Yang Maha Kuasa, kiraku tidak bakal memperoleh pengampunan. Pertama memusuhi ayah sendiri, kedua membelot kepada Raja, ketiga merusak kebaikan dan merusak negara tanpa tahu adat. Adipati Ponorogo dan Adipati Penging pasti tidak akan menerima rusaknya Majapahit, pasti ia akan membela kepada ayahnya, itu saja sudah berat tanggunganmu.”

Nyai Ageng tumpah-ruah meluapkan amarahnya kepada Prabu Jimbun. Setelah itu, Sang Prabu diperintahkan kembali ke Demak, serta diperintahkan agar mencari hilangnya ayahandanya. Apabila sudah bertemu dimohon pulang kembali ke Majapahit, dan ajaklah mampir ke Ampelgading. Akan tetapi apabil tidak berkenan, jangan dipaksa, karena jika sampai marah maka ia akan mengutuk, kutukannya pasti makbul.
 
Source : http://eyangmenggung.blogspot.com

SARAT DARMAGANDHUL


Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene "Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?"

(Pada suatu hari bertanyalah Darmagandhul pada Kalamwadi sebagai berikut, "Asal mulanya bagaimana, kok orang Jawa meninggalkan Agama Buddha dan berubah menganut Agama Islam?")

Wangsulane Ki Kalamwadi: "Aku dhewe iya ora pati ngrêti, nanging aku wis tau dikandhani guruku, ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya, nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul".

(Jawabannya Ki Kalamwadi, "Saya sendiri juga tidak begitu mengerti, tapi saya sudah pernah diberi tahu oleh guru saya, selain itu guru saya itu juga bisa dipercaya, [Beliau] menceritakan asal mulanya orang Jawa meninggalkan Agama Buddha dan berganti menganut agama Rasul (Islam).")

Ature Darmagandhul: "Banjur kapriye dongengane?"

(Darmagandhul bertanya, "Bagaimana kalau begitu ceritanya?")

Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: "Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake, supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti".

(Ki Kalamwadi lalu berkata lagi, "Hal ini sesungguhnya juga perlu diungkapkan agar orang yang tidak tahu asal mulanya menjadi tahu.")

Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka, dene ênggone jênêng Majapahit iku, mung kanggo pasêmon, nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku wis jênêng sakawit. (1) Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya.

(Pada zaman kuno, Kerajaan Majapahit itu namanya Kerajaan Majalengka, sedangkan nama Majapathit itu, hanya sebagai perumpamaan, tetapi bagi yang belum tahu ceritanya, Majapahit itu telah merupakan namanya semenjak awal. (1) Di Kerajaan Majapahit yang berkuasa sebagai Raja adalah Prabu Brawijaya.)

Ing wêktu iku, Sang Prabu lagi kalimput panggalihe, Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa, (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam, sajrone lagi sih-sinihan, Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata, bab luruhe agama Islam, sabên marak, ora ana maneh kang diaturake, kajaba mung mulyakake agama Islam, nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau.

(Pada saat itu, Sang Prabu sedang dimabuk asmara, ia menikah dengan Putri Cempa, (2) karena Putri Cempa itu beragama Islam, maka saat sedang berdua-duaan, Sang Putri [selalu] berbicara pada sang Raja, mengenai agama Islam. Tiap kali berkata-kata, tidak ada hal lain yang dibicarakan, selain mengagung-agungkan agama Islam, sehingga menyebabkan tertariknya hati Sang Prabu akan agama Islam.)

Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka, sarta nyuwun idi marang Sang Nata, kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul.

(Tidak berama lama datanglah pengikut Putri Cempa yang bernama Sayid Rakhmat ke Majalengka. Ia minta izin pada sang raja, untuk menggelar penyebaran agama Rasul (Islam).)

Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing Surabaya (3) anggêlarake agama Rasul. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka, para ngulama lan para maulana iku padha marêk sang Prabu ing Majalêngka, sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir.

(Sang Prabu juga mengabulkan apa yang diminta oleh Sayid Rakhmat itu. Sayid Rakhmat lalu mendirikan sebuah desa kecil (dukuh) di Ngampeldenta, Surabaya. Ia mengajar agama Islam di sana. Selanjutnya makin banyak para ulama dari seberang yang datang. Para ulama dan para maulana itu beramai-ramai menghadap sang raja di Majalengka, serta sama-sama meminta desa kecil di daerah pesisir.)

Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda, wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam.

(Permintaan tersebut juga dikabulkan oleh Sang Raja. Lama-lama perkampungan kecil semacam itu makin menjamur, orang Jawa makin banyak yang beragama Islam.)

Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh, dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. Sayid Kramat iku maulana saka ing 'Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu'llah, mula bisa dadi gurune wong Islam. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha, banjur ngrasuk agama Rasul. Ing Blambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên, wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat.

(Sayid Kramat menjadi gurunya orang-orang yang sudah menganut agama Islam. Tempat menetapnya berada di Benang (juga disebut Bonang - penterjemah), Tuban. Sayid Kramat itu adalah pemuka agama yang berasal dari Arab, atau tempat kelahirannya Nabi Muhammad, sehingga dapat menjadi gurunya para penganut agama Islam. Banyak orang Jawa yang berguru pada Sayid Kramat. Orang Jawa di pesisir utara, baik bagian barat maupun timur, sama-sama meninggalkan agama Buddha dan berpindah masuk Islam. Dari Blambangan ke arah barat hingga Banten,
banyak orang yang telah mematuhi perkataan Sayid Kramat.)

Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun, dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. Budi iku Dzate Hyang Widdhi, Hawa iku karêping hati, manusa ora bisa apa- apa, bisane mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake.

(Pada saat itu agama Buddha telah dianut di tanah Jawa selama seribu tahun, para penganutnya menyembah pada Budi Hawa. Budi adalah Zat dari Hyang Widdhi, sedangkan Hawa itu adalah kehendak hati. Manusia itu tidak dapat berbuat apa-apa selain berusaha menjalankan, tetapi budi yang mengubah segalanya.)

Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina, miyose putra mau ana ing Palembang, diparingi têtêngêr Raden Patah.

(Raja Brawijaya memiliki putra dari seorang putri berkebangsaan Cina. Putranya itu lahir di Palembang, dan diberi nama Raden Patah.)

Barêng Raden Patah wis diwasa, sowan ingkang rama, nganti sadhereke seje rama tunggal ibu, arane Raden Kusen. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang putrane, awit yen miturut lêluri saka ingkang rama, Jawa Buddha agamane, yen nglêluri lêluhur kuna, putraning Nata kang pambabare ana ing gunung, sêsêbutane Bambang.

(Tatkala Raden Patah sudah dewasa, ia mengunjungi ayahnya. Ia memiliki saudara lain ibu yang bernama Raden Kusen. Setibanya di Majalengka Sang Prabu bingung hatinya untuk memberi nama pada puteranya. Sebab menurut tradisi leluhur Jawa yang beragama Buddha, putra raja yang lahir di gunung, disebut Bambang.)

Yen miturut ibu, sêsêbutane: Kaotiang, dene yen wong 'Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka, padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau. Saka ature Patih, yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang, nanging sarehne ibune bangsa Cina, prayoga disêbut Babah, têgêse pambabare ana nagara liya.

(Kalau menurut ibunya, namanya adalah Kaotiang, yaitu kalau dalam bahasa Arab disebut Sayid atau Sarib. Sang Prabu lalu memanggip para patih dan pegawai kerajaan. Mereka diminta pendapatnya di dalam memberikan nama bagi putranya itu. Patih berkata bahwa kalau menurut leluhur zaman dahulu, anak raja itu seharusnya diberi nama Bambang, tetapi karena ibunya berkembangsaan Cina, maka seharusnya disebut Babah, yang artinya lahirnya ada di negara lain.)

Ature Patih kang mangkono mau, para nayaka uga padha mupakat, mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya, yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. Katêlah nganti tumêka saprene, yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah.

(Pendapat sang patih tersebut juga disepakati oleh para pegawai kerajaan. Oleh karenanya sang raja mengumumkan bahwa putranya itu yang lahir di Palembang, diberi nama Babah Patah. Hingga sampai sekarang, orang yang berdarah campuran Cina dan Jawa diberi nama Babah.)

Ing nalika samana, Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama, mulane katone iya sênêng, sênênge mau amung kanggo samudana bae, mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku.

(Babah Patah, takut kalau tidak mematuhi sabda bapaknya, karena itu bersikap seolah-olah senang. Padahal ia tidak benar-benar senang- senang diberi nama Babah.)

Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak, madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon, sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing, kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel.

(Kemudian Babah Patah diangkat menjadi bupati di Demak, untuk mengepalai para bupati di pesisir Demak ke arah barat. Babah Patah lalu diperintahkan untuk berguru di Ngampelgadhing, yang kebetulan dikepalai oleh Kyai Ageng Ngampel.)

Barêng wis sawatara masa, banjur boyong marang Dêmak, ana ing desa Bintara, sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam, anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane, dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5), pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha.

(Ketika waktunya telah tiba, ia pindah ke Demak, yakni ke desa Bintara. Sebetulnya Babah Patah telah beragama Islam saat di Palembang. Oleh sebab itu, tatkala telah berada di Demak, ia diperintahkan untuk melestarikan agamanya. Sedangkan Raden Kusen diangkat menjadi adipati di Terung, dan diberi gelar Raden Arya Pecattandha.)

Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda, para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan, Sunan iku têgêse budi, uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala, yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik, iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin. Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik, durung padha duwe karêp kang cidra, isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare.

(Makin lama agama Rasul makin menyebar luas, para ulama menjadi ingin memiliki gelar, dimana kemudian mereka digelari Sunan. Sunan itu artinya budi, pohon pengetahuan kesadaran pada yang baik dan buruk. Jika buah budi itu menyadari akan kebaikan, maka ia wajib menuntut ilmu lahir dan bathin. Pada saat itu para ulama masih memiliki hati yang baik, belum memiliki keinginan buruk, masih menahan diri dari makan dan tidur.)

Sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih, para ngulama sarake Buddha, kok nganggo sêsêbutan Sunan, lakune isih padha cêgah mangan, cêgah turu. Yen sarak rasul, sirik cêgah mangan turu, mung nuruti rasaning lesan lan awak. Yen cêgah mangan rusak, Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar.

(Sang Prabu Brawijaya jadi jatuh hati, para ulama itu dikiranya Buddha, tetapi kok disebut Sunan. Tingkah laku mereka masih menahan diri dari makan dan tidur. Apabila mengikuti rasul, maka mereka [seharusnya] bukan menahan diri dari makan dan tidur, melainkan hanya menuruti hawa nafsu keinginan. Tatkala kebiasaan menahan diri dari makan dan tidur telah rusak, tetapi Prabu Brawijaya telah terlanjur
memberikan angin. Makin lama agama rasul makin menyebar.)

Ing wêktu iku ana nalar kang aneh, ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan, wêtune saka engêtan, jroning utêk iku yen diwarahi budi nyambut gawe, kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora, iya kudu ditimbang ing sabênêre, saiki isih ana wujuding patilasane, isih kêna dinyatakake, mula saka pangiraku iya nyata.

(Pada saat itu ada peristiwa-peristiwa yang aneh yang tidak masuk akal. Peristiwa-peristiwa tersebut diketahui dari ingatan semata. Apabila membaca atau mendengar, maka perlu dipertimbangkan benar dan tidaknya. Tetapi karena sampai sekarang masih ada peninggalannya, maka menurut pendapatku hal tersebut benar-benar terjadi.)

Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri, kang ndherekake mung sakabat loro. Satêkane lor Kadhiri, iya iku ing tanah Kêrtasana, kêpalangan banyu, kali Brantas pinuju banjir. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang, satêkane wetan kali banjur niti- niti agamane wong kono apa wis Islam, apa isih agama Budi.

(Pada saat itu Sunan Benang bersiap-siap untuk mengunjungi Kediri, yang mengantarnya hanya dua orang sahabat. Ketika tiba di utara Kediri, yaitu di tanah Kertasana, mereka terhalang oleh air. Sungai Brantas saat itu kebetulan sedang banjir. Sunan Benang dan dua orang sahabatnya sama-sama menyeberang, dan ketika telah tiba di seberang ia mencari tahu apakah orang di sana telah beragama Islam, ataukah
masih menganut agama Budi.)

Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang, sarak Buddha mung sawatara, dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik, wong ing kono akeh padha agama Kalang, mulyakake Bandung Bandawasa. Bandung dianggêp Nabine, yen pinuji dina Riyadi, wong-wong padha bêbarêngan mangan enak, padha sênêng-sênêng ana ing omah. Sunan Benang ngandika: "Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah, Gêdhah iku ora irêng ora putih, tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah".

(Menurut Ki Bandar, orang di sana agamanya Kalang, bukan Buddha namun mirip, sedangkan agama Rasul masih sedikit sekali tersebarnya. Orang di sana yang sebagian besar beragama Kalang memuliakan Bandung Bandawasa. Bandung dianggap nabi mereka. Pada saat hari perayaan keagamaan mereka bersama-sama makan enak dan bersenang-senang di rumah. Sunan Benang berkata, "Jika begitu maka orang di sini sama- sama beragama Gedhah, Gedhah itu tidak hitam ataupun putih. Tempat ini pantas disebut Kutha Gedhah.")

Ki Bandar matur: "Dhawuh pangandika panjênêngan, kula ingkang nêkseni". Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah, nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah, nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane.

(Ki Bandar menjawab, "Baik, yang mulia, saya yang menjadi saksi." Tempat di bagian utara Kediri namanya mulai sekarang adalah Kutha Gedhah." Hingga saat ini masih disebut dengan Kutha Gedhah, tetapi orang jarang mengetahui asal mula nama tersebut.)

Sunan Benang ngandika marang sakabate: "Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan, kali iki isih banjir, banyune isih buthêk, yen diombe nglarani wêtêng, lan maneh iki wancine luhur, aku arêp wudhu, arêp salat".

(Sunan Benang berkata pada sahabatnya, "Carilah air minum di desa, sungai masih banjir dan airnya keruh. Jika diminum maka akan menyebabkan sakit perut. Selain itu sudah waktunya salat Lohor. Saya mau wudhu untuk salat")

Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu, têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang, kang ana mung bocah prawan siji, wajah lagi arêp mêpêg birahi, ing wêktu iku lagi nênun. Sakabat têka sarta alon calathune: "mBok Nganten, kula nêdha toya imbon bêning rêsik". mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang, barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri, MBok Prawan salah cipta, pangrasane wong lanang arêp njêjawat, mêjanani marang
dheweke, mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: "nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon, ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu, kajaba uyuh kula niki imbon bêning, yen sampeyan ajêng ngombe".

(Salah seorang sahabatnya lalu pergi ke desa mencari air minum. Ia sampai di desa Pathuk dan menjumpai rumah yang nampaknya tidak ada prianya. Yang ada hanya seorang gadis perawan menjelang dewasa, dimana saat itu ia sedang menenun. Sahabat Sunan Benang mendekat serta berkata perlahan, "Mbok Nganten (panggilan terhadap wanita dalam bahasa Jawa), saya minta air minum yang bening dan bersih."
Gadis perawan itu terkejut mendengar suara pria, ketika menoleh ia melihat seorang pria yang nampaknya mirip santri. Gadis perawan tersebut salah sangka, ia mengira orang tersebut ingin menggodanya, maka dijawabnya dengan perkataan kotor, "Anda menyeberang sungai datang kemari untuk minta air minum. Di sini tidak ada air minum, selain air kencing saya yang bening, jika Anda ingin meminumnya.")

Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan, satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. Sunan Benang mirêng ature sakabate, bangêt dukane, nganti kawêtu pangandikane nyupatani, ing panggonan kono disabdakake larang banyu, prawane aja laki yen durung tuwa, sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka
tuwa, barêng kêna dayaning pangandika mau, ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik, iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan, akeh desa kang padha rusak, awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline, kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang
banyu, jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri.

(Sang santri yang mendengar ucapan kotor itu pergi tanpa pamit dan jalannya dicepat-cepatkan. Ia menggerutu dalam hati dan menceritakan pengalamannya di hadapan Sunan Bonang. Ketika mendengar hal itu Sunan Bonang marah sekali, ia kemudian mengucapkan sumpah serapah pada warga desa tersebut. Tempat itu dikutuk agar susah mendapatkan air, para gadisnya akan terlambat menikah dan demikian pula kaum perjakanya. Sesudah kutukan tersebut diucapkan aliran Sungai Brantas menjadi kecil. Aliran sungai yang pada mulanya besar itu menyimpang dan membanjiri desa, sawah, dan ladang. Banyak desa yang rusak karena diterjang aliran sungai yang berpindah alirannya. Sungai yang pada mulanya deras alirannya itu menjadi surut. Hingga saat ini tempat tersebut menjadi susah air serta gadis dan perjakannya terlambat menikah. Sunan Benang melanjutkan perjalanannya ke Kediri.)

Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing, iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani, tansah digubêl anak putune, padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang, gawene nyikara marang para lêlêmbut, ngêndêl- êndêlake kaprawirane, kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika, iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine, mula akeh desa, alas, sawah sarta patêgalan, kang padha rusak, iya iku saka
Panggawene (Pada waktu itu ada seorang makhluk halus bernama Nyai Plencing,
yakni makhluk halus yang berdiam di sumur Tanjungtani. Anak cucunya para berkeluh kesah padanya, mereka melaporkan tindakan orang bernama Sunan Benang yang kegemarannya menyiksa para makhluk halus serta memamerkan kesaktiannya. Sungai yang mengalir di Kediri dijadikan surut airnya serta berpindah alirannya ke arah lain yang tidak seharusnya. Sehingga banyak desa, hutan, sawah, dan ladang yang rusak. Semua itu akibat ulah Sunan Bonang.)

Sunan Benang, kang uga ngêsotake wong ing kono, lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah, sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah, Sunan Benang dhêmêne salah gawe. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang, bisaa tumêka ing pati, dadi ora tansah ganggu gawe. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau, enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang, nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang, amarga rasane awake
padha panas bangêt kaya diobong.

(Sunan Bonang juga mengutuk orang di sana, gadis dan perjaka akan terlambat kawin. Sunan Benang itu kegemarannya bertindak salah. Anak cucu Nyai Plencing bersama-sama memohon Nyai Plencing agar bersedia menyantet Sunan Benang sampai mati dan tidak menganggu mereka lagi. Nyai Plencing yang mendengar keluh kesan anak cucunya itu, segera pergi menjumpai Sunan Benang. Tetapi makhluk-makhluk halus tersebut tidak dapat mendekati Sunan Benang, karena tubuh mereka serasa panas
terbakar.)

Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri, satêkane ing Kadhiri, matur marang ratune, ngaturake kahanane kabeh. Ratune manggon ing Selabale. (6) Jênênge Buta Locaya, dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya, maune jênênge kiyai Daha, duwe adhi jênênge kiyai Daka. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri, barêng Sri Jayabaya rawuh, jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara, dheweke diparingi Buta Locaya, sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya.

(Makhluk-makhluk halus itu lalu lari ke Kediri. Ketika tiba di sana mereka melaporkan pada rajanya segala hal yang mereka alami. Raja makhluk halus itu berdiam di Selabale, namanya adalah Buta Locaya. Selabale itu letaknya ada di kaki gunung Wilis. Buta Locaya itu adalah patih Sri Jayabaya, dulu namanya adalah kyai Daha dan memiliki adik bernama Kyai Daka. Kyai Daha itu asal usulnya ada di Kediri. Pada saat Sri Jayabaya tiba di sana, nama Kyai Daha itu dijadikan nama negara dan ia kemudian diberi nama Buta Locaya dan dijadikan patih oleh Sang Prabu Jayabaya.)

Buta iku têgêse: butêng utawa bodho, Lo têgêse kowe, caya têgêse: kêna dipracaya, kiyai Buta Locaya iku bodho, nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti, mulane didadekake patih. Wiwite ana sêbutan kiyai, iya iku kiyai daha lan kiyai Daka, kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe.

(Buta itu artinya buteng atau bodoh, Lo itu artinya kamu, caya artinya bisa dipercaya. Sehingga Kyai Buta Locaya itu artinya bodoh, tetapi kawan yang setia dan patuh pada pimpinannya. Oleh karena itu ia dijadikan patih. Yang pertama kali bergelar kyai adalah Kyai Daha dan Kyai Daka. Kyai itu artinya mengayomi anak cucu dan orang-orang yang berada di kanan-kirinya.)

Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka, ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata, mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka, jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa, dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung, sarta dadi senapatining pêrang.

(Sang raja lalu menuju ke rumah Kyai Daka. Di sana Sang Prabu Jayabaya beserta seluruh pengikut dan pengawalnya disambut dengan meriah, sehingga sang raja sangat mengasihi Kyai Daka. Nama Kyai Daka dijadikan nama desa dan selain itu ia diberi gelar Kyai Tunggulwulung serta diangkat menjadi panglima perang.)

Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan, Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa; Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa, kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa, kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin.
Buta Locaya panggonane ana ing Selabale, dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut, rumêksa kawah sarta lahar, yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane.

(Ketika Sang Prabu Jayabaya dan putrinya yang bernama Ni Mas Ratu Pagedhongan telah moksha, maka Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung juga ikut moksha. Ni Mas Ratu Pagedhongan menjadi ratu makhluk halus seluruh Jawa. Pusat kerajannya ada di laut selatan dan digelari Ni Mas Ratu Anginangin. Seluruh makhluk halus yang ada di lautan dan daratan serta juga kanan kiri Tanah Jawa bersama-sama takluk pada Ni
Mas Ratu Anginangin. Buta Locaya kediamannya ada di Selabale, sedangkan Kyai Tunggulwulung ada di Gunung Kelut. Ia mengawasi dan dan lahar agar supaya saat lahar keluar tidak merusak desa dan lain sebagainya.)

Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari, sarta kinêbutan êlaring mêrak, diadhêp patihe aran Megamêndhung, lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp, kang tuwa arane Panji Sêktidiguna, kang anom aran panji Sarilaut.

(Waktu itu Kyai Buta Locaya sedang duduk di singgasananya yang dialasi kasur permadani. Datang mengahadap patihnya bernama Megamendhung dan dua putra tertuanya juga hadir. Yang lebih tua bernama Panji Sektiguna dan adiknya bernama Sarilaut.)

Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp, kaget kasaru têkane Nyai Plêncing, ngrungkêbi pangkone, matur bab rusake tanah lor Kadhiri, sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku, wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri, arane Sunan Benang. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa.

(Buta Locaya sangat terkejut dengan laporan Nyai Plencing mengenai tingkah polah Sunan Benang yang merusak tanah di utara Kediri. Ia mengatakan bahwa Sunan Benang yang merusak itu orang dari Tuban yang berkelana ke Kediri. Nyai Plencing mengisahkan penderitaan para makhluk halus dan manusia.)

Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane, sarirane nganti kaya gêni, sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan, didhawuhi nglawan Sunan Benang. Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang, sarta lakune barêng karo angin, ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring
desa Kukum, ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre, dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton, kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi, ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor.

(Buta Locaya mendengar laporan Nyai Plencing itu menjadi sangat marah. Wajahnya menjadi merah padam bagaikan api. Ia segera memanggil anak-anaknya dan juga para makhluk halus jin serta peri. Ia mengajak mereka melawan Sunan Benang. Para makhluk halus itu bersiap-siap untuk perang. Mereka berjalan secepat angin, tidak berapa lama mereka tiba di utara desa Kukum, di sana Buta Locaya beralih wujud menjadi manusia yang bernama Kyai Sumbre. Ia kemudian berdiri di tengah jalan, di bawah pohon sambi, menghadang perjalanan Sunan Benang dari utara.)

Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor, Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit, sumêdya ganggu gawe, katitik saka awake panas kaya mawa. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh, ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre, amarga kaya dene cêdhak mawa, kiyai Sumbre mangkono uga.

(Tidak lama kemudian, Sunang Bonang datang dari arah utara. Ia sudah mengetahui bahwa yang berdiri di bawah pohon itu rajanya makhluk halus yang terlah bersiap-siap untuk menganggu dirinya. Dimana hal itu diketahui dari hawa panas yang keluar dari makhluk halus tersebut. Para makhluk halus yang berjumlah banyak tersebut bersama- sama menyingkir jauh-jauh karena tidak tahan dengan hawa kekuatan
Sunan Bonang. Namun Sunan Bonang juga tidak tahan berada di dekat Kyai Sumbre, karena kemanapun Sunan Bonang menyingkir, maka Kyai Sumbre ada di tempat itu pula.)

Sakabat loro kang maune padha sumaput, banjur padha katisên, amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre.

(Dua orang sahabat Sunan Bonang pingsan, karena kedinginan. Mereka tidak tahan terkena hawa kekuatan Kyai Sumbre.)

Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: "Buta Locaya! Kowe kok mêthukake lakuku, sarta nganggo jênêng Sumbre, kowe apa padha slamêt?".

(Sunan Bonang menegur Kyai Sumbre, "Buta Locaya! Kamu menghadang jalanku, serta menyamar sebagai Sumbre. Apa kamu cari mati?")

Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke, dadi dheweke kawanguran karêpe, wusana banjur matur marang Sunan Benang: "Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?".

(Buta Locaya terkejut bukan main, karena Sunan Bonang mengetahui namanya, sehingga ia merasa ketahuan rahasianya. Lalu bertanyalah ia pada Sunan Bonang, "Darimana Anda dapat mengetahui bahwa saya adalah Buta Locaya?")

Sunan Benang ngandika: "Aku ora kasamaran, aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri, jênêngmu Buta Locaya.".

(Sunan Bonang berkata, "Aku tidak tertipu, aku tahu bahwa engkau adalah rajanya para makhluk halus di Kediri, namamu adalah Buta Locaya.")

Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: "Paduka punika tiyang punapa, dene mangangge pating gêdhabyah, dede pangagêm Jawi. Kados wangun walang kadung?".

(Kyai Sumbre menjawab pada Sunan Bonang, "Anda itu orang mana, kok tingkah lakunya tidak sopan, beda dengan adat istiadat Jawa. Seperti belalang saja [loncat sini loncat sana.")

Sunan Benang ngandika maneh: "Aku bangsa 'Arab, jênêngku Sayid Kramat, dene omahku ing Benang tanah Tuban, mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri, pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya, iku prênahe ana ing ngêndi?".

(Sunan Bonang berkata lagi, "Aku orang Arab, namaku adalah Sayid Kramat, sedangkan rumah saya ada di Bonang, Tuban. Aku ke Kediri karena ingin melihat peninggalan istana Sang Prabu Jayabaya. Istana tersebut dulunya berada di mana?")

Buta Locaya banjur matur: "Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9), sadaya patilasan sampun sami sirna, kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên, kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna, pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna, namung kantun namaning dhusun, sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut.

(Buta Locaya menjawab, "Di sebelah timur itu, yakni di desa Menang, semua peninggalan telah musnah, istana serta tempat pesanggrahan juga telah tiada lagi. Istana dan taman istana Bagendhawati milik Ni Mas Ratu Pagedhongan juga telah musnah, pesanggrahan Wanacatur juga telah sirna, yang tertinggal adalah nama desa itu. Semua itu musnah tertimbun tanah pasir dan lahar dari gunung Kelut.)

Kula badhe pitaken, paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam, nyabdakakên ingkang botên patut, prawan tuwa jaka tuwa, sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah, ngêlih lepen, lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya, punika namanipun siya-siya botên surup, sikara tanpa dosa, saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse, lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa, makatên wau saking sabda paduka, sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan, lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun, wana, sabin, pintên-pintên sami risak, ngriki paduka-sotakên, sêlaminipun awis toya, lepenipun asat, paduka sikara botên surup, nyikara tanpa prakara"

(Sekarang saya hendak bertanya, Anda menyiksa anak cucu Adam, mengucapkan sesuatu yang tidak patut diucapkan. [Mengutuk] orang menjadi perawan dan perjaka tua, dan juga mengubah nama menjadi Kutha Gedhah, memindah aliran sungai, dan selanjutnya mengutuk bahwa di daerah ini akan susah air. Itu namanya tindakan yang tidak berguna, menyiksa orang lain yang tak bersalah, menyebabkan susahnya kehidupan orang lain. Lelaki susah menemukan jodohnya. Tindakan itu bertentangan dengan titah dari Latawalhujwa. Semua itu berasal dari kutukan Anda, begitu besarnya kesusahan orang yang kebanjiran. Sungai Kediri berubah alirannya dan menerjang desa, hutan, sawah, berapa banyak yang rusak. Sedangkan di sini, Anda kutuk selamanya susah air, sungainya surut. Anda itu hanya menyiksa orang lain yang tidak bersalah.")

Sunan Benang ngandika: "Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah, amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih, têtêpe agama biru, sabab agama Kalang, mula tak-sotake larang banyu, aku njaluk banyu ora oleh, mula kaline banjur tak-êlih iline, kene kabeh tak sotake larang banyu, dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa, amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku, prawan baleg."

(Sunan Bonang berkata, "Tempat ini aku ganti namanya menjadi Kutha Gedhah, karena orang di sini agamanya tidak hitam tidak putih, tepatnya agama biru, yakni agama Kalang. Aku kutuk susah air, karena saya minta air minum tidak boleh. Oleh karenanya, air sungainya saya rubah alirannya. Semua yang berada di sini saya kutuk susah air. Saya mengutuk agar orang di sini menjadi perawan dan perjaka tua, karena
tidak bersedia memberikan saya air minum, yaitu gadis perawan kurang ajar itu.")

Buta Locaya matur maneh: "Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan, botên sapintên lêpatipun, tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat, nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt, botên timbang kaliyan kukumipun, paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah, saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari, paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat, amargi ngrisakakên tanah, lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih, ing ngriki sagêda mirah toya malih, sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami, punika namanipun tiyang dahwen".

(Buta Locaya berkata lagi, "Itu namanya orang yang tanpa pertimbangan. Kesalahan tidak seberapa, dan selain itu hanya satu orang yang bersalah, tetapi Anda telah membuat susah orang banyak sekali. Tidak sesuai dengan hukumannya. Anda itu namanya membuat susah orang banyak. Seandainya diketahui yang memiliki negara, maka Anda akan dihukum melarat sekali, karenanya merusak tanah. Sudah begini saja, Anda tarik kembali kutukan Anda. Di sini menjadi melimpah air kembali, sehingga bisa untuk bercocok tanah. Pria dan wanita dapat kembali menikah pada usia mudah, sesuai dengan titah dari Hyang Manon. Anda itu bukan Narendra (gelar Wisnu, mungkin yang dimaksud Tuhan - penterjemah), tetapi kok datang-datang mengharubiru agama. Itu namanya orang berengsek.")

Sunan Benang ngandika: "Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi".

(Sunan Bonang berkata, "Meskipun kamu laporkan Raja Majalengka saya tidak takut.")

Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune, calathune sêngol: "Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja, patute rêmbage tiyang entên ing bambon, ngêndêlake dumeh tiyang digdaya, mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi, sugih sanak malaekat, lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan, siya dahwen sikara botên ngangge
prakara, sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka, nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa, têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara, punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka, muride Ijajil.

(Buta Locaya setelah mendengar bahwa Sunan Bonang tidak takut pada Raja Majalengka menjadi makin marah, kata-katanya menjadi keras, "Anda itu jelas sekali tidak mencerminkan seseorang yang bijaksana dan berbudi luhur, melainkan lebih tepat lagi disebut dengan gelandangan (bahasa asli apabila diterjemahkan secara harafiah adalah orang yang tinggal dalam rumah bambu- penterjemah). Beraninya
hanya mengandalkan kesaktiannya. Bersikaplah rendah hati sehingga dikasihi oleh Hyang Widdhi, dikasihi oleh sahabat, dan bukannya bertindak semau-maunya sendiri dengan tidak melihat kesalahannya. Itu namanya orang jahat yang tidak menimbang dulu permasalahannya. Di tanah Jawa ini, khan banyak orang yang kesaktiannya melebihi Anda, namun semuanya itu berbudi luhur dan tidak berusaha mengungguli para dewa. Mereka sama sekali tidak menyiksa orang lain tanpa melihat kesalahannya terlebih dahulu. Mengapa Anda meniru Aji Saka, muridnya Ijajil?)

Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi, sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya, Aji Saka tiyang saka Hindhu, paduka tiyang saking 'Arab, mila sami siya-siya dhatêng sêsami, sami damêl awising toya, paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur, damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah, nanging kok jêbul botên makatên, wujud paduka
niki jajil bêlis katingal, botên tahan digodha lare, lajêng mubal nêpsune gêlis duka, niku Sunan napa?

(Aji Saka menjadi raja tanah Jawa, tetapi tiga tahun kemudian pergi meninggalkannya, sumber air yang ada di Medhang juga dibawanya pergi. Aji Saka orang dari India, sedangkan Anda adalah orang Arab, karena itu sama-sama tidak menghargai sesama manusia. Sama-sama membuat sulit air. Anda itu mengaku-ngaku sebagai Sunan, khan seharusnya berbudi luhur, menciptakan kebajikan bagi orang banyak, tetapi kok malah tingkah lakunya seperti itu. Anda itu seperti iblis tingkah
lakunya. Tidak tahan digoda oleh anak kecil, lalu bangkit nafsu angkara murkanya. Sunan macam apa itu?)

Yen pancen Sunaning jalma yêktos, mêsthi simpên budi luhur. Paduka niksa wong tanpa dosa, nggih niki margi paduka cilaka, tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam, yen sampun dados, lajêng paduka-ênggeni piyambak, siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpal-mumpal. Kula niki bangsaning lêlêmbut, sanes alam kaliyan manusa, ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. Inggih sampun ta, sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih, lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya
kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun, manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên, sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula- têluh kajêngipun pêjah sadaya, kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul".

(Kalau memang Anda sudah Sunan secara lahir bathin, maka seharusnya berbudi luhur. Anda menyiksa orang tanpa dosa, yaitu karena Anda dihina. Sehingga dengan demikian setelah ini Anda pantas masuk neraka jahanam. Kalau sudah mati, Anda akan tinggal di sana. Dimasukkan kawah air panas yang asapnya melimpah-limpah. Saya ini termasuk golongan makhluk halus, dan berbeda dengan kalian yang manusia.
Karenanya saya ini masih ingat dengan kesejahteraan umat manusia. Ya sudah, apa yang sudah rusak saya minta untuk diperbaikik kembali. Sungai yang surut dan tempat yang rusak diterjang banjir, saya minta dikembalikan seperti asal mulanya. Jika Anda tidak bersedia mengembalikannya, semua orang Jawa yang sudah masuk Islam akan saya santet agar mati semua. Saya tentu juga akan minta bala bantuan dari
Ratu Ayu Anginangin di laut selatan.")

Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute, dene gawe kasusahan warna-warna, nyikara wong kang ora dosa, mula banjur ngandika: "Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan, ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu, besuk yen wus limang atus taun, kali iki bisa bali kaya mau-maune".

(Sunan Bonang setelah mendengar nasehat Buta Locaya jadi menyadari kesalahannya karena telah menyebabkan kesengsaraan banyak orang, maka berkatalah ia, "Buta Locaya, saya ini Sunan, tidak dapat menarik kembali ucapanku yang sudah keluar, besok jika telah genap lima ratus tahun, maka sungai ini kembali seperti semula.")

Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang, banjur nêpsu maneh, nuli matur marang Sunan Benang: "Kêdah paduka-wangsulna sapunika, yen botên sagêd, paduka kula-banda".

(Buta Locaya setelah mendengar penolakan Sunan Bonang menjadi marah kembali, ia mengancam Sunan Bonang, "Harus dikembalikan sekarang juga, jika tidak bisa, maka Anda saya tahan di sini.")

Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: "Wis kowe ora kêna mangsuli, aku pamit nyimpang mangetan, woh sambi iki tak-jênêngake cacil, dene kok kaya bocah cilik padha tukaran, dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah, sarta susahe jalma lan dhêmit, dak-suwun marang Rabbana, woh sambi dadi warna loro kanggone, daginge dadiya asêm, wijine mêtuwa lêngane, asêm
dadi pasêmoning ulat kêcut, dene dhêmit padu lan manusa, lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga. Ing besuk dadiya pasêksen, yen aku padu karo kowe, lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki, kang lor jênênge desa Singkal, ing kene desa ing Sumbre, dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran".

(Sunan Bonang berkata pada Buta Locaya, "Sudah, kamu tidak perlu mengajari aku, aku pamit mau ke Magetan, buah sambi ini aku sebut cacil, karena kok seperti anak kecil berkelahi. Makhluk halus dan manusia berkelahi mengadu pengetahuan masalah rusaknya tanah, serta kesengsaraan manusia dan makhluk halus. Saya akan minta pada Tuhan, buah sambi akan menjadi dua warna, dagingnya menjadi masam, bijinya
agar keluar minyaknya. Asam itu menjadi lambang ulat masam, karena makhluk halus bertengkar dengan manusia. Minyak artinya makhluk halus menghalangi perginya manusia. Pada masa mendatang jadilah saksi kalau saya bertengkar dengan kamu. Dan mulai saat ini, tempat ini yang utara namanya desa Singkah, sedangkan yang di sini namanya Sumbre. Sedangkan tempat berkumpulnya pasukanmu di bagian selatan namanya dewa Kawanguran.")

Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali, katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran, Sumbre sarta Singkal, Kawanguran têgêse kawruhan, Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal.

(Setelah berkata demikian, Sunan Bonang lalu melompat ke timur sungai. Hingga saat ini di Kutha Gedhah ada desa bernama Kawanguran, Sumbre, dan Singkal. Kawanguran artinya pengetathuan. Singkah artinya menemukan akal budi.)

Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm, ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran, rêca mau awak siji êndhase loro, dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun, wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah, Sunan Benang ngasta kudhi, rêca jaran êndhase digêmpal.

(Buta Locaya mengikuti perginya Sunan Bonang. Sunan Bonang tiba di desa Bogem, di sana ia melihat ada patung kuda yang berbadan satu tetapi berkepala dua. Letaknya ada di bawah pohon trenggulun. Buah trenggulun itu banyak sekali hingga menggunung tinggi. Sunan Bonang lalu menghancurkan kepala patung kuda itu.)

Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran, saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: "Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya, kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi, benjing jaman Nusa Srênggi, sintên ingkang sumêrêp rêca punika, lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi"

(Setelah melihat Sunan Bonang menghancurkan kepala patung kuda, maka bangkit kembali kemarahan Buta Locaya. Ia berkata, "Itu adalah peninggalan sang Prabu Jayabaya, sebagai lambang tekadnya wanita Jawa. Besok di jaman Nusa Srenggi, siapa saja yang melihat patung itu akan sama-sama memahami tekad para wanita Jawa.")

Sunan Benang ngandika: "Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa, jênênge dhêmit kêmênthus".

(Sunan Bonang menjawab, "Kamu itu bangsa makhluk halus, kok berani bertengkar dengan manusia. Itu namanya makhluk halus sombong.")

Buta Locaya mangsuli: "Inggih kaot punapa, ngriku Sunan, kula Ratu".

(Buta Locaya berkata, "Lalu kenapa memangnya? Anda Sunan, saya raja.")

Sunan Benang ngandika: "Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos, dadiya pangeling-eling ing besuk, yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus, prakara rusaking rêca".

(Sunan Bonang berkata, "Buah trenggulun ini aku namakan kenthos, sehingga menjadi peringatan di masa mendatang kalau aku bertengkar dengan makhluk halus sombong masalah rusaknya patung.")

Ki Kalamwadi ngandika: "Katêlah nganti saprene, woh trênggulun jênênge kênthos, awit saka sabdane Sunan Benang, iku pituture Raden Budi Sukardi, guruku".

(Ki Kalamwadi menjelaskan, "Hingga sekarang, buah trenggulun namanya kenthos, karena berasal dari sabda Sunan Bonang. Itu adalah pemberitahuan dari guruku Raden Budi Sukardi.")

Sunan Benang banjur tindak mangalor, barêng wis wanci asar, kêrsane arêp salat, sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane, sumure banjur digolingake, dene Sunan Benang sawise, nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat.

(Sunan Bonang lalu pergi ke arah utara. Pada saat itu telah waktunya salat asar dan ia hendak menunaikan ibadah salat. Di luar desa itu ada sumur, tetapi tidak ada ember untuk menimba air, karena itu Sunan Bonang menggulingkan sumur itu sehingga ia bisa menggambil air dari dalamnya.)

Ki Kalamwadi ngandika: "Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling, Sunan Benang kang anggolingake, iku pituture Raden Budi guruku, êmbuh bênêr lupute".

(Ki Kalamwadi menjelaskan, "Hingga saat ini sumur itu disebut sumur Gumuling. Sunan Bonang yang menggulingkannya. Itu katanya Raden Budi guruku, entah benar entah tidak.")

Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake, satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon, prênahe ana sangisoring wit dhadhap, wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange, sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau, nganti katon abang mbêranang, saka akehe kêmbange kang tiba, Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt, dene ana madhêp mangulon, dhuwure ana 16 kaki, ubênge
bangkekane 10 kaki, saupama diêlih saka panggonane, yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat, kajaba yen nganggo piranti, baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang, bathuke dikrowak.

(Setelah salat maka Sunan Bonang meneruskan perjalanannya, dan tiba di desa Nyahen. Di sana ada patung raksasa wanita yang terletak di bawah pohon dadap. Pada saat itu kebetulan pohon dadapnya sedang banya bunganya dan banyak yang berjatuhan di kanan dan kirinya patung raksasa itu sehingga nampak merah merona. Sunan Bonang melihat arca yang tingginya 16 kaki dan lingkarnya 10 kaki. Apabila diangkat orang 800 juga masih belum terangkat. Bahu kanan patung tersebut dihancurkan oleh Sunan Bonang dan selain itu dahinya juga dirusak.)

Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca, dheweke nêpsu maneh, calathune: "Panjênêngan nyata tiyang dahwen, rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara, sa-niki awon warnine, ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya, lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?"

(Buta Locaya mengetahui tindakan Sunan Bonang merusak patung itu, timbul amarahnya kembali, "Anda itu benar-benar orang brengsek. Patung bagus-bagus kok dirusak tanpa sebab. Patung itu adalah peninggalan Sang Prabu Jayabaya, lalu mengapa Anda rusak?")

Pangandikane Sunan Benang: "Mulane rêca iki tak-rusak, supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh, aja tansah disajeni dikutugi, yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar."

(Jawaban Sunan Bonang, "Arca ini saya rusak supaya jangan disembah-sembah oleh orang banyak, supaya jangan dimantrai. Yang menyembah patung itu namanya kafir. Lahir dan bathinnya tersesat.")


http://www.freelists.org/archives/mahasathi/05-2004/msg00162.html

Buta Locaya calathu maneh: "Wong Jawa rak sampun ngrêtos, yen punika rêca sela, botên gadhah daya, botên kuwasa, sanes Hyang Labawalhujwa, mila sami dipunladosi, dipunkutugi, dipunsajeni, supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng, amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun, dados têdhanipun manusa, mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca,
panjênêngan-tundhung dhatêng pundi?

(Buta Locaya mengomel lagi, "Orang Jawa itu khan sudah tahu, bahwa itu hanya sebuah arca batu, tidak punya daya apa-apa, tidak punya kekuasaan apa, bukan Hyang Labawalhujwa, karena itu dimantrai dan diberi sesajian, supaya para makhluk halus yang dulunya tinggal di tanah atau kayu - karena tanah dan kayu itu dimanfaatkan bagi manusia - maka para makhluk halus itu diberi tempat tinggal di dalam arca. Anda itu tahu nggak sih?)

Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa, wontên ing rêca, sarta nêdha ganda wangi, dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah, langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng, sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa, manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara, dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah, makluking Pangeran. Aluwung manusa Jawa
ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa, wangsul tiyang bangsa 'Arab sami sojah Ka'batu'llah, wujude nggih tugu sela, punika inggih langkung sasar".

(Sudah wajar kalau para makhluk halus tinggal di gua dan patung. Selain itu mereka makan bau harum. Makhluk halus itu apabila makan bau harum, badannya terasa segar. Mereka betah tinggal di patung-patung batu yang berada di tempat sepi atau yang berada di depan pohon besar. Apakah Anda sudah pernah merasakan hidup di alam makhluk halus yang berbeda dengan alam manusia? Mereka yang hidup di dalam patung baru, Anda siksa, jadi karena itu Anda patut disebut orang jahil. Orang yang gemar berbuat seenaknya sendirinya terhadap sesama makhluk Tuhan. Lebih baik orang Jawa yang menghormati patung demi menguntungkan para makhluk halus, dibandingkan dengan orang Arab yang menyembah Ka'bah. Wujudnya juga tugu batu, sehingga seharusnya mereka juga sesat.")

Pangandikane Sunan Benang: Ka'batu'llah iku kang jasa Kangjêng Nabi Ibrahim, ing kono pusêring bumi, didelehi tugu watu disujudi wong akeh, sing sapa sujud marang Ka'batu'llah, Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing 'alam pangumbaran".

(Sunan Bonang menjawab, "Ka'bah itu ada karena jasanya Nabi Ibrahim, di situ terletak pusatnya bumi. Dibangun tugu dan disembah orang banyak. Siapa saja yang bersujud pada Ka'bah, Allah akan mengampuni dosanya selama hidup di dunia.")

Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: "Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran, angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun, punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit?

(Buta Locaya menjawab dengan marah, "Buktinya apa kalau mereka beroleh pengampunan dosa dari Tuhan, memperoleh pengampunan dari semua kesalahan. Apakah sudah memperoleh tanda tangan dan cap dari Tuhan?")

Sunan Benang ngandika maneh: "Kang kasêbut ing kitabku, besuk yen mati oleh kamulyan".

(Sunan Bonang berkata lagi, "Itu semua disebut dalam kitabku. Besok kalau meninggal akan beroleh kemuliaan.")

Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: "Pêjah malih yen sumêrêpa, kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup, sasar nyêmbah tugu sela, manawi sampun nrimah nêmbah curi, prayogi dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran, sami maujud piyambak saking sabda kun, punika wajib dipunsujudi. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos, manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu'llahipun, badanipun manusa punika Baitu'llah ingkang sayêktos, sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos, punika kêdah dipunrêksa, sintên sumêrêp asalipun
badanipun, sumêrêp budi hawanipun, inggih punika ingkang kenging kangge tuladha.

(Buta Locaya menjawab dengan tidak senang hati, "Ketahuilah, kemuliaan yang ada di dunia ini sudah ternoda, orang tersesat menyembah tugu batu, ketika mereka sudah melakukan kejahatan. Di Gunung Kelut banyak batu besar-besar hasil ciptaan Tuhan, kesemuanya itu terwujud berdasarkan Sabda Allah, itulah yang sesungguhnya lebih
pantas disembah. Berdasarkan izin Yang Maha Kuasa, seluruh umat manusia harus mengetahui mengenai Ka'bah sejati, tubuh manusia itulah Ka'bah sejati. Sejati karena ciptaannya Yang Maha Kuasa. Inilah yang harus diperhatikan. Siapa yang sadar akan asal usulnya, mengetahui akal budinya, yaitu yang sanggup dijadikan suri tauladan.)

Sanadyan rintên dalu nglampahi salat, manawi panggenanipun raga pêtêng, kawruhipun sasar-susur, sasar nêmbah tugu sela, tugu damêlan Nabi, Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah, ta, pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan, sidik paningalipun têrus, sumêrêp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya, inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos,
pinaringan wahyu mulya, inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus, sumêrêp saderengipun kalampahan, paduka pathokan tulis, tiyang Jawi pathokan sastra, bêtuwah saking lêluhuripun. sami- sami nyungkêmi kabar, aluwung nyungkêmi kabar sastra saking lêluhuripun piyambak, ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. Tiyang nyungkêmi kabar 'Arab, dereng ngrêtos kawontênanipun ngrika, punapa dora punapa yêktos, anggêga ujaripun tiyang nglêmpara.

(Meskipun siang dan malam menjalankan salat, tetapi apabila pikirannya gelap, pengetahuannya amburadul, menyembah tugu batu yang dibuat nabi. Nabi itu khan juga manusia kekasih Allah, diberi wahyu sehingga menjadi pandai dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi. Sedangkan yang membangun arca batu itu adalah Prabu Jayabaya, yang juga merupakan kekasih Allah. Ia juga menerima wahyu mulia, juga banyak pengetahuannya dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi. Anda berpedoman pada kitab, sedangkan orang Jawa berpedoman pada sastra kuno, petuah dari leluhur sendiri. Lebih baik mempercayai sastra kuno dari leluhur sendiri yang peningggalannya masih dapat disaksikan. Orang mempercayai kitab Arab, padahal belum tahu keadaan di sana, entah benar entah salahnya, hanya percaya perkataannya para penipu.)

Mila panjênêngan anganjawi, nyade umuk, nyade mulyaning nagari Mêkah, kula sumêrêp nagari Mêkah, sitinipun panas, awis toya, tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal, bênteripun banter awis jawah, manawi tiyang ingkang ahli nalar, mastani Mêkah punika nagari cilaka, malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang, kangge rencang tumbasan. Panjênêngan tiyang duraka, kula-aturi kesah saking ngriki, nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya, asrêp lan bênteripun cêkapan, tanah pasir mirah toya, punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh, tiyangipun jalêr bagus, wanitanipun ayu, madya luwês wicaranipun. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad, inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika, sapunika panjênêngan ukur, manawi kula lêpat panjênêngan
jotos.

(Anda menjual kemuliaannya negeri Mekah. Padahal saya tahu seperti apa sebenarnya Mekah. Tanahnya panas, susah air, tanaman tidak bisa tubuh, serta jarang hujan. Orang yang sanggup bernalar akan menyebut Mekah itu negeri celaka. Malah banyak orang yang diperjual-belikan sebagai budak. Anda itu orang durhaka. Saya minta untuk pergi dari sini, negeri Jawa yang suci dan mulia, cukup hujan dan air, apa yang
ditanam dapat tumbuh, yang pria tampan, yang wanita cantik. Bicaranya juga luwes. Kalau Anda bicara masalah pusatnya jagad, maka tempat yang saya duduki inilah yang merupakan pusat jagad. Silakan Anda ukur, bila salah pukullah saya.)

Rêmbag panjênêngan punika mblasar, tandha kirang nalar, kirang nêdha kawruh budi, rêmên niksa ing sanes. Ingkang yasa rêca punika Maha Prabu Jayabaya, digdayanipun ngungkuli panjênêngan, panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta, kula-aturi kesah kemawon saking ngriki, manawi botên purun kesah sapunika, badhe kula-undhangakên adhi-kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut, panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang, lajêng kula-bêkta mlêbêt dhatêng
kawahipun rêdi Kêlut, panjênêngan punapa botên badhe susah, punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng Selabale, dados murid kula!".

(Anda itu seperti orang tidak waras, pertanda kurang nalar, kurang memakan pengetahuan akal budi, senang menyiksa orang lain. Yang membuat arca itu Maha Prabu Jayabaya, yang kesaktiannya melebihi Anda. Anda apa sanggup mengetahui apa yang akan terjadi? Sudahlah, saya minta Anda pergi saja dar sini. Jika tidak mau pergi dari sini, maka akan saya panggilkan adik saya dari Gunung Kelut. Anda saya keroyok apa bisa menang? Lalu akan saya bawa ke dalam kawah Gunung Kelut. Apakah Anda tidak sengsara? Apakah Anda ingin berdiam dalam batu seperti saya? Kalau mau silakan datang ke Selabale, jadi murid saya!")

Sunan Benang ngandika: "Ora arêp manut rêmbugmu, kowe setan brêkasakan".

(Sunan Bonang berkata, "Saya tidak mau mengikuti perkataanmu, wahai setan iblis.")

Buta Locaya mangsuli: "Sanadyan kula dhêmit, nanging dhêmit raja, mulya langgêng salamine, panjênêngan dereng tamptu mulya kados kula, tekad panjênêngan rusuh, rêmên nyikara niaya, mila panjênêngan dhatêng tanah Jawi, wontên ing 'Arab nakal kalêbêt tiyang awon, yen panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking 'Arab, mila minggat, saking lêpat, tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban, maoni adating uwong, maoni agama, damêl risak barang sae, ngarubiru agamane lêluhur kina, Ratu wajib niksa, mbucal dhatêng Mênadhu".

(Buta Locaya menjawab, "Meskipun saya makhluk halus, tetapi raja makhluk halus. Mulia dan abadi selamatnya. Anda belum tentu mulia seperti saya. Niat Anda buruk, gemar menyiksa orang lain. Oleh karena itu Anda datang ke tanah Jawa. Di Arab Anda tergolong orang hina. Jika Anda orang mulia maka tidak akan pergi meninggalkan Arab, karena salah maka melarikan diri dari sana. Buktinya di sni membuat onar, menghina adat istiadat orang lain, menghina agama, merusak barang
yang bagus, mengharubiru agama leluhur kuno. Raja wajib menyiksa dan membuang Anda.")

Sunan Benang ngandika: "Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung, uwohe kledhung, sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag, dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit, kalah kawruh kalah nalar".

(Sunan Bonang berkata, "Pohon dadap ini bunganya aku beri nama celung, buahnya kledhung, karena aku kalah nalar dan kalah pembicaraan. Jadilah saksi bila aku bertengkar dengan raja makhluk halus dan kalah pengetahuan serta nalar.")

Mula katêlah nganti tumêka saprene, woh dhadhap jênênge kledhung, kêmbange aran celung.

(Oleh karena itu hingga sekarang, buah dadap, namanya kledhung, bunganya dinamakan celung.)

Sunan Benang banjur pamitan: "Wis aku arêp mulih mênyang Benang".

(Sunan Bonang lalu berpamitan, "Sudah saya akan pulang ke Bonang.")

Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: "Inggih sampun, panjênêngan enggala kesah, wontên ing ngriki mindhak damêl sangar, manawi kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah, murugakên awis wos, nambahi bênter, nyudakakên toya".

Sunan Benang banjur tindak, dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih.

(Buta Locaya menjawab dengan marah, "Ya sudah, pergilah cepat-cepat. Di sini membuat susah saja. Makin lama makin membuat susah saja. Membuat susah air, menyebabkan kekeringan." Sunan Bonang meninggalkan tempat itu dan Buta Locaya beserta pasukannya juga pulang meninggalkan tempat itu.)


Source : http://eyangmenggung.blogspot.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites